Tag

, , ,

(Konsep Pendidikan Islam menurut Ibnu Jama’ah)

Muqaddimah

Tidak dapat dipungkiri lagi, di era sekarang ini, Barat tengah menjadi idola semua bangsa, dan kiblatnya dunia, tidak terkecuali sebagian besar umat Islam.

Mereka merasa akan lebih keren, beken, berpikiran maju dan modern saat mereka bisa menggunakan produk-produk Barat di semua lini kehidupannya. Salah satunya dalam penyelenggaraan pendidikan. Tidak sedikit lembaga pendidikan Islam, bernama pesantren yang menaruh perhatian besar terhadap konsep pendidikan yang dikembangkan dan ditawarkan oleh Barat, sehingga ilmu-ilmu yang semestinya dikuasai oleh para santri terkubur dalam ilmu sekuler. Akibatnya, banyak sekali para lulusannya yang lebih tertarik untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi dengan jurusan yang diambil sedikit banyak tidak ada hubungannya dengan ilmu-ilmu dasar yang telah mereka peroleh dari pesantren.

Padahal kalau kita perhatikan dengan seksama dan kita mau menggalinya dengan teliti, maka kita akan mendapatkan konsep pendidikan Islam kaya dengan khazanah dan metode yang tepat bagi persoalan pendidikan kontemporer. Bahkan kalau kita bandingkan dengan konsep yang ditawarkan oleh sarjana Barat, konsep pendidikan yang ada di dalam Islam jauh lebih baik dan hebat. Ia tidak hanya berorientasi pada kehidupan duniawi, tapi sekaligus kehidupan ukhrawi. Pendidikan Islam sama sekali tidak berorientasi pada materi, tapi lebih kepada pembentukan manusia yang paripurna, pribadi yang bisa mempertangggungjawabkan hidupnya kepada Sang Pencipta.

Tujuan mulia itu tidak akan tercapai, jika kita menggunakan konsep yang datannya dari Barat. Kita harus mempraktikkan konsep yang digulirkan oleh ulama-ulama dan praktisi pendidikan Islam melalui karya-karya mereka. Salah satu contohnya Ibnu Jamâ’ah (639-733) Tadzkirah al-Sâmi’ wa al-Mutakkalim fî Adab al-‘Ilm wa al-Muta’allim. Untuk mengetahui konsep pendidikan Islam yang ditawarkan oleh Ibnu Jam’ah, Ust. Aziz Asmana, Lc.memilih kitab tersebut untuk dijadikan objek yang akan dibedah dalam Kajian Turast PD. Pemuda Persis Garut, di Aula Kantor Bersama Persis, pada Ahad (12/06).

Menurut Ust. Aziz yang bertindak sebagai pembicara pada kajian tersebut, menyebutkan beberapa alasan pemilihan kitab tersebut, diantaranya Kandungan kitabnya sangat mendasar dan urgen untuk diketahui oleh semua pihak. Dari sisi materi, kitab ini sangat relevan dengan kebutuhan manusia, dulu dan sekarang.

Biografi Ibnu Jamâ’ah

Ibnu Jam’ah yang bernama lengkap Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah bin Ali bin Jama’ah bin Hazim bin Shakhr, dilahirkan di Ham‘ah pada tahun 639. Beliau termasuk ulama besar yang bermadzhab Syafi’I untuk fiqh, sementara akidahnya beraliran Asy’Ari yang terpuji, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam al-Dzahabi dalam Mu’jam al-Syuyukh (2/130).

Kebesaran seorang ulama biasanya ditentukan oleh banyaknya guru yang mereka datangi. Semakin banyak guru maka tidak perlu diragukan lagi kualitas keilmuannya. Dalam hal ini, Ibnu Jam’ah memiliki banyak guru. Menurut al-Barzali jumlahnya hingga 74 orang, satu di antaranya seorang perempuan (Masyaikhat). Diantara Guru-gurunya yang paling masyhur, yaitu Syaikh al-Syuyukh bin Izzun, Taqiyuddin Abu Abdlillah Muhammad bin Husain bin Razin (w 680 H), Mu’inuddin Ahmad bin Ali bin Yusuf al-Dimisyqi (w 667 H), Zainuddin Abu Thahir Ismail bin Abdul Qawiy (w 667), dan Muhammad bin Abdillah bin Malik (w 672 H).

Adapun Murid-muridnya yang paling masyhur, Muhammad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahabi (w 748 H), Muhammad bin Jabir al-Maghribi al-Wadi (w 749 H) dan Abdul Wahab bin Ali al-Subki (w 771 H).

Kariernya di bidang peradilan/hukum  begitu mengaral lintang. Beliau pernah menjadi hakim di al-Quds tahun 687 H, kemudian pindah ke pengadilan Mesir. Setelah berhenti menjadi hakim di Mesir, beliau diangkat lagi pasca wafatnya Ibnu Daqiqil ‘Ied. Pernah uzlah selama satu tahun, lalu dipilih lagi menjadi hakim, dan menjadi buta tahun 727 H. Lantas beliau menjauh dari kehakiman dan fokus terhadap pengajaran di berbagai madrasah yang terkenal di berbagai negara saat itu.

Selain itu, kebesaran beliau sebagai ulama besar juga dibuktikan dengan karya-karyanya. Beliau telah menelorkan karya tertulis sebanyak 29 (dua puluh Sembilan) buah dalam berbagai disiplin ilmu; di bidang Ulûm al-Qur’an,  Akidah, akhlak, ‘Ulûm al-Hadîst, fikih, sejarah, astronomi, Bahasa dan pendidikan. Adapun kitab yang sedang dikajinya ini ini termasuk karyanya yang paling fenomenal di bidang pendidikan.

Oleh karena itu, tidak heran jika Ibnu Katsir melayangkan pujiannya kepada Ibnu Jam’ah dengan mengatakan,“Dia sorang ulama, syaikhul Islam, banyak mendengar hadits (riwayat), sibuk dengan ilmu, menghasilkan ilmu yang beraneka ragam, lebih maju dari teman sejawatnya dalam hal kepemimpinan/jabatan, pakar agama, pandai menulis, wara..”.(Al-Bidayah wa al-Nihayah: 14/163).

Mengenai Kitab Tadzikrah al-Sâmi’ wa al-Mutakkalim Fî Adab al-‘Ilm wa Al-Muta’allim

Kitab ini sangat penting sekali untuk diketahui oleh umat Islam, khususnya bagi mereka yang concern di dunia pendidikan. Di dalamnya Ibnu Jam’ah berusaha untuk memberikan penjelasan seputar konsep pendidikan yang ditinjau dari berbagai segi. Dari segi syariah kitab ini menjelaskan sebagian hukum syariah yang berkaitan dengan murid dan guru; dari segi adab dan pendidikan, terdapat adab dan metode pendidikan yg tidak dikhususkan bagi murid dan guru saja, bahkan hal ini dinilai inti dari metode pendidikan yg dibangun di atas syari’at; Segi historis dan social, beliau mencoba untuk Menggambarkan model pendidikan pada saat itu.

Sebagaimana judul kitab tersebut, beliau lebih menekankan peranan adab dalam menuntut ilmu, atau langkah pertama yang harus diperhatikan oleh tenaga pendidik. Adab sangat penting sekali diberikan sebelum peserta didik menerima ilmu. Dalam muqaddimah kitab, Ibnu Jama’ah menilai bahwa seorang yg cerdas harus memulai pendidikannya dengan belajar adab terlebih dahulu dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya. Keutamaan adab telah disaksikan/ditetapkan oleh syara’ dan akal sehat. Semua orang akan memuji orang yang beradab. Orang yg paling berkewajiban tersifati dgn adab ini adalah ahlul ilmi (ulama & penuntut ilmu). Sumber akhlak dan adab adalah Rasulullah Saw., Ahlu Bait, para sahabat dan para ulama salaf.

Tidaklah berlebihan jika ada ulama yang menyatakan bahwa adab itu lebih penting daripada ilmu. Misalnya saja, Makhlad bin Husein mengatakan kepada Ibnu Mubarak: “Kita lebih membutuhkan banyak belajar adab daripada banyak belajar hadits.”

Isi kandungan tersebut terdiri dari lima (5) Bab, yaitu,

Bab Pertama membahas tentang keutamaan ilmu dan para ulama serta keutamaan mempelajari ilmu dan mengajarkannya. Pada Bab ini Beliau mengemukakan beberapa dalil dari Al-Qur’an, Hadits dan perkataan ulama dan menambahkan satu pasal yang membahas tetang ancaman bagi orang yang menuntut ilmu bukan karena Allah/orientasi dunia.

Bab Kedua tetang adab seorang pendidik tehadap dirinya, menjaga/atensi peserta didik dan pelajarannya. Pada Bab ini pembaca akan disuguhkan tentang Adab seorang pendidikterhadap dirinya (12 adab), Adab seorang pendidik terhadap pelajarannya (12 adab), Adab seorang pendidik terhadap peserta didiknya (14 adab),

Bab ketiga tetang adab seorang peserta didik terhad dirinya, menjaga/atensi pendidik dan pelajaran yang disampaikannya, dengan sub judul, diantaranya Adab terhadap dirinya (10 adab). Adab terhadap gurunya (13 adab), dan Adab terhadap pelajarannya (13 adab).

Bab keempat berbicara tentang adab terhadap kitab-kitabnya.

Bab kelima tetang adab terhadap lingkungan pendidikan.

Bab keenam Urgensi seorang pendidik dalam pelaksanaan proses pengajaran

Bab ketujuh seorang pendidik harus memiliki skill mengajar, dan

Bab Kedelapan, Seorang pendidik harus memiliki  karakter/sifat/kepribadian yang baik.

Karya beliau ini memberikan gambaran kepada kita bahwa beliau mempunyai pandangan atau konsep tersendiri yang bisa menjadi daya tawar bagi kita dalam menyelenggarakan lembaga pendidikan yang Islami. Beriktu pandangan dan konsep beliau seputar dunia pendidikan yang dimaksud,

  1. a.      Pandangan pendidikan Ibnu Jam’ah

Menurut beliau, dunia pendidikan Islam itu seharusnya konsisten dengan adab pengajaran ilmu, bersih dari berbagai ketamakan/obsesi negative, bersikap ramah dan lemah lembut terhadap peserta didik dan sabar terhadap prilaku mereka, seorang pendidik aktif dlm kehidupan bermasyarakat, bersikap adil dan objektif dalam berinteraksi dengan para peserta didik, dan memperhatikan penampilan yg umum.

Selain itu, juga seorang tenaga pengajar harus pengetahuan yang mumpuni mengenai metode dan teknik pengajaran, agar apa yang disampaikannya itu bisa diterima oleh peserta didiknya. Dalam hal ini, tidak terdapat batasan yg jelas dalam kitab Ibnu Jama’ah mengenai metode pengajaran, namun beliau menjelaskan bhw pengajaran akan terealisasi tujuannya apabila memiliki keistimewaan dlm metode dan media pembelajaran, di antaranya:

  1.  Kreatif dalam memotivasi peserta didik untuk belajar
  2.  Menperhatikan level intelegensia peserta didik
  3.  Bersandar pada efektivitas peserta didik dalam waktu dan aktivitas mereka
  4.  Menjunjung fleksibelitas dan keseimbangan
  5.  Memelihara kesehatan jiwa peserta didik
  6. Mengatur rencana pengajaran/kurikulum dan tingkatan pembelajaran (kelas-kelas)
  1. a.      Konsep pendidikan menurut Ibnu Jama’ah

Di dunia pendidikan, sekolah atau pesantren selamanya tidak akan terlepas dari unsure-unsur, seperti Guru, murid, kurikulum, metode pembelajaran dan fasilitas. Ibnu Jam’ah memiliki konsep sendiri mengenai unsure-unsur tersebut.

  1. Konsep Guru/Ulama

Menurut Ibnu Jama’ah ulama sebagai mikro cosmos manusia dan secara umum dapat dijadikan sebagai tipologi makhluk terbaik (khairul Bariyyah). Beliau menawarkan sejumlah kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang yang akan menjadi guru. Pertama, menjaga akhlaq. Kedua, tidak menjadikan profesi guru sebagai usaha untuk menutupi kebutuhan ekonominya. Ketiga, mengetahui situasi sosial kemasyarakatan. Keempat, kasih sayang dan sabar. Kelima, adil dalam memperlakukan peserta didik. Keenam, menolong dengan kemampuan yang dimilikinya.

Dari keenam kriteria tersebut, yang menarik adalah tentang tidak bolehnya profesi guru dijadikan sebagai usaha mendapatan keuntungan material. Ibnu Jama’ah berpendapat demikian sebagai konsekuensi logis dari konsepsinya tentang pengetahuan. Bagi beliau ilmu sangat agung lagi luhur, bahkan bagi pendidik menjadi kewajiban tersendiri untuk mengagungkan pengetahuan tersebut, sehingga pendidik tidak menjadikan pengetahuannya itu sebagai lahan komoditasnya, dan jika hal itu dilakukannya berarti telah merendahkan keagungan pengetahuan (ilmu).

  1. 2.      Konsep peserta didik

Menurut Ibnu Jama’ah, peserta didik yang baik adalah mereka yang mempunyai kemampuan dan kecerdasan untuk memilih, memutuskan, dan mengusahakan tindakan-tindakan belajar secara mandiri.

Selain itu Ibnu Jama’ah tampak sangat menekankan tentang pentingnya peserta didik mematuhi perintah pendidik, ia berpendapat bahwa pendidik meskipun salah ia harus tetap dipatuhi, peserta didik juga tidak dibenarkan untuk mempunyai gagasan yang tidak sejalan dengan pendidik.

Pemikiran Ibnu Jama’ah tentang peserta didik ini nampak kurang demokratis, namun pandangan ini tampak didasarkan pada sikapnya yang konsisten dalam memandang guru atau ulama sebagai orang yang memiliki kapasitas keilmuan yang patut di prioritaskan daripada peserta didik. Namun demikian beliau sangat mendorong para siswa untuk mengembangkan kemampuan akalnya, yaitu agar tekun dan betul-betul giat dalam mengasah kecerdasan akalnya, serta menyediakan waktu tertentu untuk pengembangan daya intelektualnya.

  1. 3.      Konsep materi pelajaran/kurikulum

Materi pelajaran yang dikemukakan oleh Ibnu Jama’ah terkait dengan tujuan belajar, yaitu semata-mata menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan tidak untuk mencari kepentingan dunia atau materi. Tujuan semacam inilah yang merupakan esensi dari tujuan pendidikan Islam yang sesungguhnya.

Materi pelajaran yang diajarkan harus dikaitkan dengan etika dan nilai-nilai spiritualitas. Dengan demikian, ruang lingkup epistimologi persoalan yang dikaji oleh peserta didik semakin luas, yaitu meliputi epistimologi kajian keagamaan, dan epistimologi di luar wilayah keagamaan (sekuler). Namun demikian kajian sekuler tersebut harus mengacu kepada tata nilai religi.

Apabila dibedakan berdasarkan muatan materi dari kurikulum yang dikembangkan Ibnu Jama’ah ada dua hal yang dapat dipertimbangkan. (1) Kurikulum dasar yang menjadi acuan dan paradigma pengembangan disiplin lainnya (kurikulum agama dan kebahasaan). (2) Kurikulum pengembangan yang berkenaan dengan materi non-agama, tetapi tinjauan yang dipakai adalah kurikulum pertama. Dengan demikian kurikulum yang pertama ini dapat memberikan corak bagi kurikulum kedua yang bersifat pengembangan.

Selanjutnya Ibnu Jama’ah memprioritaskan kurikulum Al-Qur’an daripada yang lainnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Muhammad Fadhil al-Jamali yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab terbesar yang menjadi sumber filasafat pendidikan dan pengajaran bagi umat Islam serta Al-Hadits untuk melengkapinya.

  1. 4.      Konsep metode pembelajaran

Konsep Ibnu Jama’ah tentang metode pembelajaran banyak ditekankan pada hafalan ketimbang dengan metode lain. Metode hafalan memang kurang memberikan kesempatan pada akal untuk mendayagunakan secara maksimal proses berfikir, akan tetapi, hafalan sesungguhnya menantang kemampuan akal untuk selalu aktif dan konsentrasi dengan pengetahuan yang didapat.

Selain metode ini, beliau juga menekankan tentang pentingnya menciptakan kondisi yang mendorong kreativitas para siswa, menurut beliau kegiatan belajar tidak digantungkan sepenuhnya kepada pendidik, untuk itu perlu diciptakan peluang-peluang yang memungkinkan dapat mengembangkan daya kreasi dan daya intelek peserta didik.

  1. 5.      Konsep lingkungan pendidikan

Para ahli pendidikan sosial umumnya berpendapat bahwa perbaikan lingkungan merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.
Sejalan dengan hal diatas Ibnu Jama’ah memberikan perhatian yang besar terhadap lingkungan. Menurutnya bahwa lingkungan yang baik adalah lingkungan yang di dalamnya mengandung pergaulan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etis.

Pergaulan yang ada bukanlah pergaulan bebas, tetapi pergaulan yang ada batas-batasnya.
Lingkungan memiliki peranan dalam pembentukan keberhasilan pendidikan. Keduanya menginginkan adanya lingkungan yang kondusif untuk kegiatan belajar mengajar, yaitu kondisi lingkungan yang mencerminkan nuansa etis dan agamis.

Penutup

Kitab karya Ibnu Jamaah ini sarat dengan berbagai faidah dan manfaat, khususnya dalam pelaksanaan dan pengembangan dunia pendidikan. Kitab ini layak dijadikan bahan kajian dan panduan, baik oleh pendidik atau peserta didik, yang ingin meraih ilmu dengan memprioritaskan adab terlebih dahulu!

*) Tulisan ini adalah hasil bedah kitab Lembaga Kajian Turats PD. Pemuda Persis Garut. Berikut kami lampirkan slide point untuk anda baca:

About these ads