Andai itu Tak Selamanya Lebay

Tag

, , ,

Tidak semua andai adalah mimpi-mimpi lebay. Dan andai bukan saja milik Anima, Kahitna, Chrisye, atau GiGi Band lho! Tapi biasanya kalau kita dengar kata “andai” kita langsung teringat sebuah hits tentang sang penggelap pajak yang terkenal seantero jagad itu, “Andai aku jadi Gayus Tambunan,” he..he..

 

Ternyata dalam Al-Quran pun ada sekitar 77 kali kata “andai” disebutkan. “Andai” atau lau disebutkan dalam Surat Al-Baqarah sebanyak 5 kali. Begitu juga dalam surat Ali Imran disebut 6 kali, surat An-Nisa 5 kali, Al-Maidah 1 kali, Al-An’am 3 kali, Al-A’raf 2 kali, Al-Anfal 2 kali, Al-Taubah 4 kali, Yunus dan Hud masing-masing 1 kali, Al-Ra’d 2 kali, Ibrahim 1 kali, Al-Hijr dan An-Nahl masing-masing 2 kali, Al-Isra 3 kali, Al-Kahfi dan Al-Anbiya maasing-masing 4 kali, Al-Mu’minum; Al-Syu’arâ; dan Al-Qashash masing-masing 1 kali, Al-Ankabut 2 kali, Al-Ahzab; Saba; Yasin; dan Al-Shaffat masing-masing kali, Al-Zumar 4 kali, Fushilat; Al-Zukhruf; Al-Ahqaf; Al-Fath; dan Al-Hujurat masing-masing 1 kali, Al-Waqi’ah 3 kali, Al-Hasyr; Al-Mumtahanah; Al-Mulk; Al-Ma’arij; Nuh, dan Al-Takâtsur masing-masing 1 kali. Sedangkan dalam surat Al-Qolam hanya disebut 2 kali.

 

Lalu apa makna “andai” dalam Al-Quran? Ternyata jika kita baca satu persatu, “andai” dalam Quran digunakan untuk makna nano-nano alias warna-warni banyak rasanya. Inilah mungkin yang disebut dengan rasa bahasa atau dzauq al-lughah.

 

Ada “andai” yang bermakna angan-angan penyesalan. Seperti Nampak pada Surat Al-Mulk ayat 10. Orang-orang dzalim berkata, “andai kami mendengar dan mau mengerti kami tidak akan menjadi bagian penghuni neraka sa’îr.” Begitu juga dalam Surat Al-Zumar ayat 58 ketika penghuni neraka melihat dahsyatnya adzab, “Andai aku masih memiliki satu kesempatan, maka aku akan menjadi orang-orang berbuat baik.” Begitupula dalam Surat Al-Hijr ayat 2 ketika kafir penghuni neraka berangan-angan, “Andai mereka adalah orang-orang muslim.” Hal senada diungkapkan juga dalam Surat Al-Baqarah, 167 ketika orang kafir berandai dapat terlepas dari jeratan pemimpin mereka yang menyesatkan.

 

Selain berandai untuk penyesalan, “andai” dalam Al-Quran digunakan juga untuk sebuah sindiran tentang mustahilnya ilmu hakikat bisa dimiliki musuh Allah, yaitu ungkapan “Andai mereka mengetahui.” Ungkapan yang sama ini diulang hingga 16 kali. Bentuk ini sangat korelatif dengan penyesalan yang mereka ungkapkan nanti seperti angan-angan penyesalan di atas. Dengan demikian, kemustahilan ini berkaitan dengan akidah atau ilmu keyakinan orang-orang kafir, bahwa mereka tidak akan menyesal “andai mereka mengetahui” sejak awal tentang akidah yang benar. Tentu saja kemustahilan ilmu ini tidak berkaitan dengan kebermanfaatan ilmu teknisistik yang mereka bangun hari ini, seperti manfaatnya ilmu pesawat, ilmu cyber, serta ilmu-ilmu lain yang termasuk kategori hikmah. Sebab ilmu hikmah yang mereka ketahui saat ini bukanlah ilmu mandiri yang mereka temukan. Akan tetapi terbangun dari peradaban-peradaban lalu yang disertai invensi tertentu hingga mencirikan khas dan semangat zamannya.

 

Ada juga “andai” dalam Quran yang menunjukkan hasrat, impian, atau bahkan cita-cita yang berkonotasi negatif. Seperti Nampak dalam Surat Al-Baqarah ayat 109, ketika mengisahkan hasrat Ahli Kitab, “Sangat besar hasrat ahli kitab itu, andai kalian (orang-orang beriman) kembali murtad kepada kekafiran setelah kalian beriman.” Hal senada diungkapkan dalam Surat Ali Imran ayat 69, “Sebagian golongan ahli kitab sangat berhasrat. Mereka berandai dapat menyesatkan kalian.” Begitu juga anda dapat melihat hal sama dalam Surat An-Nisa ayat 89 dan ayat lainnya.

 

Dalam Al-Quran, “andai” digunakan juga sebagai ungkapan ejekan. Entah itu ejekan orang munafik kepada kaum muslim atau ejekan Allah kepada orang-orang munafik. Ejekan orang munafik diungkapkan Al-Quran dalam Surat Ali Imran ayat 169, “Andai kalian mentaati kami (untuk tidak ikut berperang), maka kalian tidak akan terbunuh.” Begitu pula ejekan orang musyrik kepada para Rasul karena mereka hanya manusia biasa yang tersurat dalam Fushilat ayat 14, “Andai Allah berkehendak, niscaya Dia akan mengutus malaikat sebagai Rasul.” Orang-orang sesat pun pernah mengejek dalam Surat Al-Zumar ayat 57, “Andai Allah memberiku hidayah, pastilah aku menjadi orang-orang bertaqwa.” Ketika Allah mengejek orang-orang munafik, Allah berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 39, “Kenapa orang-orang (munafik yang riya ini)? Andai mereka beriman kepada Allah dan hari akhir dan berinfak dari apa yang Allah rizkikan. Dan Allah Maha Mengetahui keadaan mereka.”

 

Selain itu, Quran pun menggunakan andai dalam bentuk metaforis, maksudnya adalah untuk menggambarkan dahsyatnya sesuatu. Ketika Allah hendak menggambarkan betapa dahsyatnya ‘adzab yang mengitari orang-orang kafir, Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 96, “Andai mereka diberi usia seribu tahun, tidak ada seorangpun dapat berlari dari ‘azab Allah.” Begitu juga dalam Surat Al-Mâ-idah ayat 36 disebutkan dahsyatnya hari kiamat itu, “Andai mereka memiliki kekayaan isi bumi seluruhnya  ditambah yang semisilnya untuk menebus dosa pada ‘adzab di hari kiamat, pasti tidak akan diterima tebusan itu dari mereka.” Dan di saat Allah hendak menggambarkan dahsyatnya risalah yang terkandung dalam Quran, Allah berfirman dalam surat Al-Hasyr ayat 21, “Seandainya Al-Quran kami turunkan kepada gunung, engkau akan melihat gunung itu tunduk dan hancur karena takut kepada Allah.” Begitu pula ketika hendak menggambarkan dahsyatnya kedustaan orang yang meyakini ada Tuhan selain Allah, disebutkan dalam Surat Al-Anbiya ayat 22, “Andai di langit dan di bumi ada tuhan selain Allah (seperti yang mereka sangkakan), pastilah bumi dan langit ini hancur.”

 

Itulah diantara beberapa makna “andai” yang dapat kita temukan dalam Quran. Sebenarnya masih banyak jika kita hendak menggalinya lebih jauh. Namun penulis sekedar mengingatkan siapapun agar tidak perlu takut untuk mengecap “rasa” bahasa dalam Al-Quran dengan kapasitas ilmu masing-masing yang dimiliki. Namun tentu saja para ulama telah begitu serius mendalami rasa bahasa ini sejak lama. Dan hasilnya? Masih membuka ruang bagi kita bersama untuk lebih memperkaya hasil kajiannya itu. Berani? Siapa takut!