Tag

, , ,

TAHMID YANG MENARIK HATI

Diantara salah sekian tahmid yang pernah diucapkan Rasulullah, ada tahmid yang memiliki latar belakang riwayat yang luar biasa dan sangat penting artinya. Sebab seroang yang asalnya memiliki sangkaan bahwa Rasulullah adalah seorang yang majnun (gila), berubah arah setelah mendengar tahmid di atas seperti diceritakan dalam riwayat Shahih Muslim pada Bab Takhfîf al-shalawât wa al-khutbah.

Orang tersebut bernama Dlimad, orang Azdi Syanu-ah. Ia seorang kâhin (dukun), ahli mengobati orang dengan jampi-jampi. Ia memiliki sangkaan yang kuat bahwa Nabi Muhammad Saw., itu manjûn, sebab yang mengatakan demikian bukan satu dua orang. Rupanya, masa itu lawan-lawan Islam di Mekkah dengan sengaja menyebarluaskan berita dusta semacam itu.

Berdasarkan sangkaan kuatnya inilah, Dlimad tergugah hatinya, terbesit rasa kasihan akan kawannya itu. Ia berguman, “Mengapa orang-orang membiarkan Al-Amin[1] itu menderita penyakit gila? Aduhai sayangnya!”. Demikian kesedihan yang ada dalam hatinya. Rasa perikemanusiaannya menyesali musibah yang menimpa orang baik-baik.

Oleh sebab itu, Dlimad bermaksud untuk menolong Rasulullah, melepaskan beliau dari derita penyakitnya itu. Dlimad hendak berbuat kebaikan kepada kawannya itu, sebab mungkin dengan jampi-jampi yang bisa ia lakukan, Rasulullah akan sembuh. Ia berfikir, bukankah ia seorang kahin kenamaan, sehingga banyak yang sembuh karena tangannya itu? Sungguh ia berbesar hati jika dapat menyembuhkan Rasulullah, kawan lamanya itu!

Ia berkata, “Sungguh gembira bila aku dapat melihat orang itu, semoga Allah menyembuhkannya dengan usahaku”. Ia pun berangkat ke Mekkah. Ia berusaha agar dapat bertemu dengan Rasulullah. Banyak orang yang melarangnya untuk menemui Rasulullah karena dianggap bahaya. Tapi niatnya adalah bulat, ia bermaksud untuk menolong Muhammad yang telah tertimpa penyakit gila itu.

Akhirnya Dlimad dapat bertemu dengan Rasulullah. Setelah keduanya berhadapan, Dlimad dengan hati yang suci, dengan kata-kata yang penuh yakin serta harapan yang kuat, berkata, “Ya Muhammad! Sesungguhnya aku dapat mengobati penyakit gila ini! Dan sesungguhnya Allah menyembuhkan dengan usahaku (jampi-jampiku) barangsiapa yang dikehendakinya. Apakah engkau mau diobati?”.

Mendengar tawaran Dlimad itu Rasulullah sadar dan faham akan isi dan kandungan ucapan Dlimad. Beliau mengerti, bahwasanya Dlimad yakin akan berita yang tersebar dari orang-orang musyrik bahwa Muhammad telah menjadi gila. Mereka dengan sengaja menyebarluaskan berita-berita fitnah dengan maksud membendung ajaran Islam. Sebab jika nama Rasulullah telah dijelek-jelek dan tercemar, siapa lagi yang akan mendengarkan den percaya kepadanya?!

Kemudian Rasulullah tidak memberikan jawaban apa-apa kepada Dlimad. Ucapan Dlimad itu seolah-olah tidak terdengar oleh beliau! Kemudian beliau mengucap tahmid yang berbunyi

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَمَّا بَعْدُ

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongannya. Siapa orang yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak akan ada orang yang sanggup menyesatkannya. Dan barang siapa yang telah Allah sesatkan, maka tidak akan ada orang yang sanggup memberinya hidayah. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Amma Ba’du

Dlimad tertahan nafasnya, darahnya tersirap mendengar apa-apa yang diucapkan Rasulullah. Dlimad kagum akan susunan kata yang indah serta penuh arti. Ia belum pernah mendengar susunan kata yang seringkas itu, tapi isinya sungguh indah, padat dan berisi makna yang mendalam.

Hati Dlimad tertarik, jiwanya telah tertawan dan akhirnya bersinarlah cahaya Ilhi yang menerangi relung kalbunya.

Dengan lirih ia mengucap, “Telah kudengar ucapan jampi para kahin, telah kudengar pula ucapan tukang sihir, dan telah kudengar pula ucapan para pujangga ahli syair. Namun tidak pernah kudengar susunan kata seperti yang kau bacakan itu, ia telah sampai pada puncak keindahan (yang tidak mampu tertandingi!)”.

Setelah ia merenung ia pun berucap, “Ulangi untukku kata-katamu itu semua!”.

Sungguh hati Dlimad tertarik, sehingga ia ingin mendengarnya kembali. Rasulullah memenuhi keinginan Dlimad. Beliau mengulangi lagi tahmid itu sampai tiga kali untuk memenuhi permintaannya. Setelah ia mendengarnya tiga kali, Dlimad mengulurkan tangannya kepada Rasulullah, seraya berakata…

“Marilah tangan tuan, aku berbai’at kepadamu untuk masuk Islam!”.

“Apakah dengan kaummu?”, tanya Rasulullah.

“Iya, dengan kaumku juga”, tegas Dlimad.

***

Mengapakah Dlimad tertarik?

Dlimad bukan saja tertarik karena susunan kata-katanya sangat indah padahal hanya beberapa patah saja, tapi juga tertarik karena makna dan isinya yang padat, tajam, dan kuat menembus ke dalam relung qalbu, menghancurkan kepercayaan yang sesat, meyakinkan kesesatan yang dimiliki seseorang, dan teranglah bahwa “orang gila” tidak akan mampu melahirkan susunan kata yang demikian mendalam!

Hikmah lain yang kita dapatkan adalah. Sekalipun niat baik, bila bodoh dan kurang ilmu, sebab sering terjadi dengan maksud suci namun melahirkan perbuatan yang salah. Ia melakukan kesalahan, sebab tidak tahu bagaimana mesti dilakukannya. Demikianlah ia bermaksud beribadah, tapi ia justru melakukan bid’ah!

Oleh sebab itu mohonlah kepada Allah…

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

Barang siapa yang mendapat petunjuk Allah (Al-quran dan hadis) maka tidak ada yang berkuasa menyesatkan dia. Dan barang yang tersesat, maka tidak ada yang kuasa untuk memberinya hidayah

Dan itulah sebabnya kenapa kita senantiasa mesti menjaga dan berpedoman Al-Quran dan Hadits, agar tida ada perbuatan baik yang tidak baik!

Kini, tahmid itu sering dibaca orang, tapi nampaknya ia sudah kering, tidak dirasakan arti dan maknanya. Ia tidak lagi mengubah fikiran dan perasaan dan membangkitkan iman, sebab ia tidak lagi ditafakuri. Sungguh berbeda dengan Dlimad!

Dlimad dengan penuh perhatian mendengarkan dan merasakan, kemudian MENGHAYATINYA dalam segala amal dan perbuatan!.

(Disadur dari tulisan Ust. H. E. Abdurrahman, dalam Majalah Risalah, No. 64, 65, 66. Th. VII, 1388 H / 1968 M )


[1] Al-Amin adalah gelar yang diberikan kepada Nabi oleh orang Quraisy sebab terkenal dengan kejujurannya.