Tag

, ,

SECANGKIR KOPI

Almarhum Kiayi Haji Tamim, Muballigh Persatuan Islam di Bogor, wafat tanggal 14 Januari 1954. Beliau menjadi muballigh setelah melewati masa mudanya, namun semangatnya mampu mengalahkan para muballigh muda, pantang mengatakan “tidak” bila diminta bertabligh, kapan saja dan di mana saja. Beliau dapat bertabligh berjam-jam tanpa persiapan, ayat Al-Quran dihafal engan dilagukan seperti biasa membaca Al-Quran. Bukan hanya menghadapi perdebatan yang mesti dipertahankan dengan dalil hadits dan Al-Quran, tapi seringkali juga mesti menghadapi keroyokan, menghadapi tukang bacok, dan bahaya golok.

Di zaman jajahan Belanda dan Jepang, kembali kepada Al-Quran dan Hadits itu benar-benar asing (gharib),[1] disangka akan merusak agama.

Beliau dikenal orang dengan nama Mama Kiayi atau Mama Tamim, sekalipun berusia lanjut tapi tidak kaku bergaul dengan para pemuda, dengan mudah menerima keterangan yang haq (benar) meski dari seorang anak kecil dan tidak segan-segan menegur salah sekalipun kepada penguasa di zaman Jepang yang terkenal bengis dan kejam pada masa itu. Padahal sebelum menjadi muballigh Persatuan Islam, beliau termasuk lawan yang berat, merintangi dengan santar, giat dan aktif, serta membendung tersebarnya faham kembali kepada Al-Quran dan Hadits yang sahih.

Pada suatu hari beliau mendengar bahwa anak didiknya di Jakarta ada yang masuk menjadi anggota Persatuan Islam, maka untuk meyakinkan berita dan bermaksud akan membela dia, sebab menurut pendapatnya di saat itu, yang masuk menjadi anggota Persatuan Islam itu tersesat, oleh sebab itu wajib dibela[2].

Setibanya ke rumah anak didiknya di Jakarta, ternyata berita itu tidak salah, nampaknya dengan sengaja kitab-kitab dari Persatuan Islam diletakkan di meja tamu sebagai pernyataan dan pemberitahuan dan menantikan tegoran nasihat atau reaksi dari Mama Kiayi. Mama Kiayi tidak mengadakan sambutan atau reaksi apa-apa tapi dengan diam-diam kitab itu dipindahkan ke bawah meja lalu memesan kepada tuan rumah agar dibuatkan kopi. Sebelum kopi disodorkan, tuan rumah mengangkat kembali kitab-kitab tersebut, dipindahkan ke atas meja. Pada saat itu, Mama Kiayi sempat menasihati anak didiknya, agar kitab-kitab itu dibuang jangan dibaca sebab menyesatkan orang, menasihatkan agar jangan berubah pendirian, beliau memesan, “Patuhilah ajaran yang terdahulu telah dipelajari, sebab ulama-ulama itu bertanggung jawab”.

Tuan rumah (anak didik Mama Kiayi) tidak menjawab, tapi dia mengangguk-anggukan kepalanya dengan muka yang jernih dan tetap hormat dan khidmat kepada Mama Kiayi, lalu ia pergi ke belakang untuk mengambil kopi yang sudah disediakan istrinya. Setelah kopi dan kue-kue disajikan, tuan rumah mengambil tempat dan duduk di depan Mama Kiayi. Tatkala kopi akan diminum, tuan rumah berkata, “Mama, saya mengharap agar kopi itu jangan diminum sebelum pertanyaan saja dijawab”.

“Apa pertanyaanmu?”, Mama bertanya.

“Kopi itu pahit atau manis?”, tanya tuan rumah.

“Nanti saya minum dahulu”, kata Mama.

Tuan rumah dengan sangat kuat mensyaratkan agar dijawab tanpa diminum terlebih dahulu.

Mama Kiayi berkata, “Mana bisa saya  tahu, bila tidak dicoba terlebih dahulu, mesti saya minum dahulu, baru saya dapat menetapkan yakin, manis atau pahitnya kopi ini!”.

Pada kesempatan itu, tuan rumah mengalihkan masalahnya. Ia berkata, “Apakah kitab-kitab yang tadi dikatakan menyesatkan orang, apakah Mama sudah mencobanya?”.

Dengan tegas Mama Kiayi menjawab, “Belum!”.

“Bila demikian”, sela tuan rumah, “dari mana Mama tahu kitab-kitab itu menyesatkan?”.

Pada saat itu, Mama tertegun diam, beliau minum kopi seraya mengambil sebuah kitab yang tersedia di atas meja dan ternyata isinya memikat hati Mama Kiayi, beliau duduk terpaku tidak meninggalkan kursinya hingga jauh malam. Dan pada pagi harinya, Mama berubah pendiriannya dan sejak saat itu, beliau tidak henti-hentinya muthala’ah[3] untuk meyakinkan kebenaran kitab-kitab termaksud dan akhirnya beliau menjadi guru dan muballigh Persatuan Islam.

Karena semangkuk kopi, terbukalah hati dan dengan penuh keyakinan yang berdalil ruju (kembali) keapada Al-Quran dan Hadits yang shahih serta bermodalkan keikhlasan!.

(Disadur dari Majalah Risalah dengan beberapa penyesuaian bahasa, No. 132, Th. XIII, 1394 H/1974 M)


[1] Seperti juga asingnya saat ini di tahun 2001-2009

[2] Masudnya, yaitu membela dengan meluruskan orang yang tersesat, seperti dianjurkan dalam hadits Rasulullah untuk membela orang yang tesesat, yaitu dengan jalan menunjukkannya pada jalan yang lurus.

[3] Muthala’ah, yaitu mengkaji