Tag

, , , , ,

Khaulah dan Al-Mujadilah

Wajar apabila orang-orang heran melihat Umar bin Khatab –seorang pemimpin yang tegas, adil tindakannya, serta disegani ummatnya, harus tertunduk dan merendah hati di hadapan seorang nenek-nenek yang memanggil dan menyuruhnya berhenti di sebuah perjalan. Nenek-nenek itu menghadirkan beragam pertanyaan terhadap diri Umar bin Khatab sehingga ada seorang laki-laki yang bertanya, “Wahai Amir Al-Mukminin! Engkau telah menahan para terkemuka Quraisy karena harus menunggu nenek-nenek ini (selesai berbicara dengan anda)”. Khalifah Umar bertanya, “Tahukah siapa dia?”. Lelaki itu menjawab, “Tidak!”. “Dia itu seorang perempuan yang Allah berkenan mendengar pengaduannya dari atas tujuh langit, yaitu Khaulah putri Tsalabah. Bila Allah saja berkenan mendengar dan mengabulkan permohonannya, maka seorang Umar tidak layak jika tidak mau mendengarkan, memperhatikan pengaduannya atau pesannya”, lanjut Umar. Beliau meneruskan, “Aku akan sabar mendengarkan omongan nenek-nenek itu, walaupun lamanya sehari penuh, saya tidak akan meninggalkan dia, kecuali untuk shalat”.

KHAULAH

Kaulah menduduki kedudukan yang tinggi di kalangan sahabat dan mendapat kehormatan yang luar biasa. Allah memberikan tempat yang istimewa kepadanya karena dia seorang mukminah yang sangat kuat keyakinannya. Ia sangat percaya akan kepastian hukum Allah sehingga segala gerak, tindak-tanduk, sikap, dan pendiriannya tidak boleh lepas dari aturan serta undang-undang agama. Seluruh hidupnya merupakan ibadah. Sikapnya sabar dan tahan uji, sekalipun suaminya, Aus bin Al-Shamit, kurang sabar dan gampang marah, sering bersikap tanpa berfikir akibatnya!

Pada suatu hari Aus marah kepada Khaulah hingga keluarlah dari mulutnya ungkapan thalaq, Anti ka dzhari ummi (engkau seperti punggung ibuku). Ungkapan ini lazim diucapkan orang jahiliyyah bila bermaksud untuk mencerai istrinya. Sebab kawin dan bercampur dengan ibu sendiri diharamkan juga di zaman jahiliyyah. Hal tersebut dilakukan apabila sang suami jengkel kepada istri mereka atau istri mereka sudah tidak menarik lagi bagi sang suami. Ungkapan dzhihâr ini dimaksudkan untuk tidak bercampur lagi atau putus hubungan suami istri.

Aus berniat untuk menarik ucapannya itu, namun Khaulaf menahan dirinya. Sebab menurut hukum jahiliyyah, Aus benar-benar telah menceraikannya. Oleh sebab itu ia pun mendatangi Rasulullah Saw., untuk mengadukan apa yang telah terjadi. Dengan lirih iapun berkata, “Dia telah mengawininku pada waktu aku sangat muda belia dan memiliki daya tarik. Namun setelah umur telah lanjut dan melahirkan beberapa anak, ia pun menjadikan saya seperti ibunya (dzhihâr). Sesungguhnya aku memiliki anak-anak yang masih kecil, bila diserahkan kepadanya, anak-anak akan terlantar (tidak terdidik) dan bila diserahkan kepadaku, mereka akan kelaparan”.

Khaulah bimbang, merasakan ketidakadilan, sebab ketika ia masih muda, segar, dan menarik, suaminya dengan senang mengenalkannya kepada kawan-kawan, “Inilah istriku!”. Namun ketika sudah lanjut usia dan telah melahirkan banyak anak, lidahnya berat untuk mengakui bahwa Khaulah itu istrinya. Cukup saja Aus menyebutnya ummu al-aulad (ibu anak-anak), atau nenek si fulan. Bahkan Aus pernah dengan tegas mengatakan bahwa ia sudah tidak mendapatkan sesuatu yang menarik pada diri Khaulah, rasa kasih sayang masih ada, namun cinta sebagai suami istri sudah tidak ada. Istrinya dinyatakan sebagai punggung ibunya sendiri, yang haram dinikahi dan haram bercampur.

Khaulah pun melihat bahwa perceraian seperti itu akan merusak keturunan. Sebab anak-anak akan terlantar tanpa didikan dan kasih sayang dari kelembutan seorang ibu. Namun jika Khaulah memaksakan untuk mengurus mereka, pastilah anak-anaknya akan kelaparan karena tidak adanya suami yang biasa memberikan nafkah untuk keseharian mereka.

Khaulah memohon kepada Rasulullah agar ditunjukkan jalan keluar agar rumah tangganya selamat dari kehancuran. Namun pada waktu itu Rasulullah hanya mengatakan, “Saya tidak mempunyai sesuatu ketentuan hukum dalam urusan ini”. Rasul belum memiliki ketentuan hukum dari Allah mengenai hal ini dan karena takut akan memberikan jalan keluar yang berdasarkan hawa nafsu. Oleh sebab itu, status Khaulaf ketika itu, meski belum di thalak, namun tetap haram untuk bercampur, jika menurutkan hukum adat yang berlaku pada waktu itu.

Waktu itu Aisyah ada di rumah dan mendengar apa yang diadukan oleh Khaulah, namun tidak jelas dan oleh sebab itu ia hanya mendengar sebagian saja.

Oleh karena Rasullah tidak memberikan jalan keluar, Khaulah pun berdoa kepada Allah, memohon agar diturunkan undang-undang, ketentuan hukum sehubungan dengan persoalan yang dihadapinya itu. Sebab jika dibiarkan, masalahnya akan terkatung-katung, cerai tidak, hubungan suami istripun akan kaku, rumah tangga akan hilang keharmonisannya sebab kehilangan jalinan kasih sayang, padahal masih satu rumah!

Oleh sebab peristiwa ini, turunlah undang-undang tentang dzhihâr dalam surat Al-Mujadilah, yaitu bila suami mengatakan, “Engkau seperti punggung ibuku”, maka haramlah bercampur. Namun bila ia bermaksud akan menarik kembali ucapannya itu, dia mesti memerdekakan seorang hamba sahaya, bila tidak ada atau tidak mampu, dia mesti shaum dua bulan berturut-turut, atau memberi makan, sedekah, kepada enam puluh orang miskin. Dia tidak boleh melakukan hubungan suami istri selama dalam masa kifarat itu atau sebelum kifaratnya terpenuhi. Bagi orang yang tidak mampu, tidak dibebaskan dari ketentuan itu tapi mesti berusaha, boleh dibantu dan disumbang agar kifarat itu terpenuhi.

Allah berfirman dalam surat Al-Mujadilah,

(1) Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat, (2) Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (3) Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (4) Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.

(Disarikan dari Renungan Tarich, Majalah Risalah, 147-148, Th.XIV, 1395 M / 1975 H, dengan beberapa adaptasi bahasa oleh Yudi Wahyudin)

Tanbih:

Peristiwa ini menunjukkan beberapa hal penting :

  1. Umar bin Khatab telah mengamalkan ayat Al-Quran, yang menegaskan bahwa kemuliaan seseorang bukan diukur oleh terpandang atau tidaknya di masyarakat, berharta atau miskinnya seseorang, namun kemuliaan manusia diukur oleh ketaqwaannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa”. (QS. Al-Hujurat, 13)
  2. 2. Khaulah adalah prototipe perempuan sahabat yang ucapannya diperkenankan oleh Allah dan peristiwa pengaduannya diabadikan dalam surat Al-Quran. Allah tentu saja akan berkenan dengan permohonan hambanya yang telah mentaati perintah-perintah-Nya serta menjauhi seluruh larangan-Nya. Seperti diungkapkan dalam surat Al-Baqarah 186, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”
  3. Rasulullah tidak memaksakan diri untuk memberikan undang-undang berdasarkan hawa nafsunya. Hal ini menjadi penegas ayat Al-Quran dalam surat Al-Najm, ayat 3-4, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
  4. Khaulah pun tidak memaksa Rasul untuk memberikan undang-undang yang berpihak pada dirinya! Memaksa sesuatu yang pantas untuk kepentingan dirinya. Khaulah sadar, bahwa undang-undang itu hakikatnya dari Allah, sehingga ia pun segera bergerak untuk berdoa kepada Allah, tanpa menunggu komando Rasulullah!

Wallahu ‘alam