Tag

, ,

GEMPA LAGI?

Oleh: Yudi Wahyudin

Waktu itu kira-kira pukul 23.11 WIB, penulis merasakan getaran yang sama dengan getaran awal gempa Tasikmalaya. Karena khawatir getaran itu membesar, penulis pun membangunkan istri tercinta yang sudah terlelap tidur. Waktu itu penulis baru pulang dari Pesantren, ngaderes Tafsir Ibnu Katsir bareng para asatidz. Seperti juga waktu gempa Tasikmalaya beberapa hari yang lalu, penulispun malam tadi sedang berada di depan komputer menyiapkan satu dua tulisan. Namun kemudian getaran itu mengecil dan semakin tidak terasa. “Mungkin ada gempa dengan skala kecil di Tasik”, pikirku. Tanpa melewatkan banyak waktu, penulis langsung menghidupkan tv dan masuki chanel tvOne. Dugaannya meleset. Ternyata daerah yang terkena gempa adalah Yogyakarta. Jika pada 27 Mei 2006, gempa berkekuatan 5,9 skala richter itu meluluhlantahkan wilayah Bantul. Pada malam tadi, gempa di Tanah Keraton yang berkekuatan 6,8 skala richter itu mengguncang Wonosari. Dengan kedalaman 35 km dan episentrum yang jauh dari permukaan,  gempa ini dilaporkan tidak berpotensi Tsunami dan tidak begitu merusak.

bruk1

Ada apa dengan ramadhan kali ini? Berturut-turut terjadi dua kali gempa dalam satu bulan; bulan yang suci, penuh rahmat, penuh berkah, dan maghfirah? Sudah sangat berdosakah kita sehingga Allah harus menurunkan peringatan-Nya berturut-turut ataukah musibah yang berakibat pada mawas dan evaluasi diri ini justru sebagai cara-Nya menghapus seluruh lumuran dosa kita semua? Adzab atau kifarat sangat mutlak tergantung pada bagaimana kita menyangka-Nya selama ini sebab Allah menyesuaikan dengan sangkaan hamba-Nya. Jika kita menyangka bahwa ini adzab bagi kita, benarlah bahwa dosa kita sudah tidak layak untuk diampuni hingga azablah yang lebih pantas kita terima. Namun jika kita menyangka bahwa ini adalah kifarat dari-Nya, benarlah bahwa kita memang masih layak diampuni-Nya. Kita masih hidup! Masih menyisakan waktu yang kita pun tidak tahu kapan akan berhentinya. Kita masih memiliki kesempatan untuk merubah dan memperbaiki cara pandang kita kepada-Nya, memberbaiki cara hidup bersama-Nya, memperbaiki cara hidup sesama manusia karena-Nya. Dalam riwayat Bukhari, Rasulullah pernah bersabda, “Jika engkau masih ada tanaman yang harus kau tanam, tanamlah meski engkau tahu kiamat akan terjadi esok hari!”. Subhanallah, visi Islam yang terkandung dalam hadits tersebut jelas menolak seluruh keputusasaan, menolak untuk mengatakan “kita sudah tidak layak untuk diampuni-Nya”, seperti kisah si Baha dalam Para Pencari Tuhan (PPT) III, yang enggan berhenti minum bir karena merasa sudah tidak layak berada dalam ridha-Nya. Selama kita masih hidup dan mumpung nyawa kita masih menyatu dengan jasadnya, bertaubat dan perbuatlah seribu satu macam kebaikan! Wallahu ‘alam