Rasulullah bersabda, “Dunia itu adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang-orang kafir” (HR. Bukhari)

Dalam Islam, ada sebuah kondisi (conditio) yang kadang terlihat berbeda. Seperti ayat tentang ‘taqwa’, dalam surat Ali Imran 102, orang mukmin diperintah untuk bertaqwa dengan sesungguh-sungguhnya taqwa. Namun pada surat At-Taghabun 16, Allah justru memerintahkan kita untuk bertaqwa sekemampuan kita. Begitu juga dalam hadits di atas. Rasulullah mengingatkan bahwa dunia adalah penjara bagi orang-orang mukmin. Namun jika kita telusuri dalam berbagai Al-quran dan hadits, ternyata banyak juga anjuran untuk memperhatikan dunia, lihat Al-Baqarah 130, 201, 220; Ali Imron, 45, 117, 148; An-Nisa, 134; Al-A’raf, 32, 156; Yunus, 34; Al-Hajj, 15; An-Nur, 14; Al-Qashash, 77, dan lain sebagainya. Namun sesungguhnya, perbedaan itu terletak pada konteksnya, bukan merupakan perbedaan dalam pengertian yang kontradiktif.

Lalu bagaimana sebenarnya letak dunia sebagai “penjara” bagi orang mukmin?. Namun analogi atau tamtsil tidak harus secara komprehensif menjelaskan apa yang dianalogikan. Seperti ungkapan, “Umar bagaikan Singa”. Analogi “Singa” tidak bermaksud menjelaskan Umar secara komprehensif namun terikat pada bagian-bagian tertentu yang ada dalam kedua jenis itu, misalnya “keberanian” Umar sama dengan singa.

Oleh karena itu tamtsil ini sederhananya bisa kita analisa secara bahasa. Pertama, penjara umumnya adalah tempat bagi orang-orang yang pernah melakukan kesalahan. Nabi Adam ’Alaih Al-Salâm pernah menempati surga, sebuah tempat yang menyediakan berbagai macam kebutuhan. Namun karena tergoda oleh bujuk rayu Iblis akan sebuah ‘keabadian’ (khuld), Adam –karena kemanusiaannya, melakukan satu-satunya larangan yang Allah peringatkan. Jadilah ia berdosa dan kemudian diturunkan ke dunia (penjara) dalam keadaan bermusuhan dengan iblis (lihat surat Al-Baqarah, 35-38). Kedua, penjara umumnya memiliki peraturan-peraturan tertentu yang jika kita langgar salah satu peraturannya, bisa jadi hukuman akan diperpanjang, diperpendek (hukum mati) atau disiksa. Dalam kehidupan dunia, Allah memberikan rambu-rambu untuk manusia. Rambu-rambu itu terdapat dalam ayât al-qauliyyah dan âyat al-qauniyyah. Dalam ayat Al-Qauliyyah kita mengenal Al-Quran dan Sunnah Nabi, sedangkan dalam ayat kauniyyah, kita mengenal hukum alam. Kedua-duanya bersumber pada Dzat yang mengatur, Rab Al-‘Âlamin. Jika kita melanggar aturan Allah dalam kedua bentuk di atas, kemungkinan-kemungkinannya adalah kita diberi maaf –dengan diperpanjang jatah ujian dengan harapan dapat bertaubat dan berubah, bisa juga diperpendek –dengan dicabut nyawa dalam keadaan hina seperti dalam kasus-kasus faktual orang-orang yang sudah kelewatan dzalûman jahûla, atau bisa juga disiksa oleh siksaan dunia. (Lihat QS. Al-Baqarah, 2, 114; Al-Maidah, 33, 41; Hud, 66; Al-Hajj, 9). Ketiga, penjara pada umumnya memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu yang tidak bisa dilakukan oleh orang yang terpenjara namun bisa dilakukan oleh orang yang bebas. Di kehidupan dunia, ada berbagai macam keterbatasan yang tidak bisa dilakukan oleh mukmin –yang padahal bisa dilakukan oleh mukmin di akhirat. Di dunia, seorang mukmin tidak bisa meminum khamar, namun bisa diminum jika di surga (lihat Muhammad, 15). Di dunia, seorang mukmin tidak diperbolehkan beristrikan lebih dari empat, namun di surga hal itu boleh-boleh saja (lihat Al-Baqarah, 25; An-Nisa, 57). Di dunia, seorang mukmin tidak selalu disediakan berbagai macam kebutuhan secara instan, namun di surga kebutuhan-kebutuhan itu telah tersedia, bahkan lebih dari sekedar instan. (Lihat Ar-Ra’d, 35; Muhammad, 15), dan lain sebagainya. Keempat, penjara pada umumnya selalu bersifat sementara. Begitu juga seorang mukmin di dunia, ia adalah sementara. (Lihat Ali Imran, 14, 185, 197; An-Nisa, 77; At-Taubah, 38, dan lain sebagainya). Oleh karena sementara itu, sungguh rugi jika seorang mukmin hanya berdo’a untuk sebuah penjara (baca: dunia).

Namun demikian, penjara adalah tempat pembuktian. Seseorang yang masuk Lapas, akan dimonitor oleh penjaga Lapas dan di evaluasi. Layakkah ia –jika suatu hari keluar, namanya direhabilitasi? Bagi Allah, rehabilitasi itu adalah nikmat surga yang abadi, lebih dari asumsi keabadian yang pernah dimengerti Adam A.S dalam penyesalannya. Wa Allahu ‘Almu