Tag

, , , , , ,

Sebuah Pesan dari Surah Al-Furqan

Oleh: Yudi Wahyudin

Istilah penistaan agama ternyata memiliki akar yang sangat panjang. Penistaan terhadap agama Islam merujuk pada sebuah upaya yang dilakukan oleh golongan tertentu untuk mengaburkan pokok-pokok ajaran dalam Islam, mulai dari aqidah terhadap Allah, Malaikat, Kenabian, Al-Quran, hari Akhir, hingga mengenai persoalan-persoalan taqdir.

Saat ini, penistaan itu terus berevolusi mencari bentuknya. Dalam Surat Al-Furqan pada paruh awal (hizb al-awwal), Allah SWT menggambarkan bagaimana pokok ajaran Islam digugat oleh orang Kafir Quraisy. Selain menggugat Allah, mereka pun menggugat Al-Quran, konsep kenabian dan para sahabat, konsep malaikat, dan konsep hari akhir.

Bagaimanakah gugatan itu dihadirkan? Bagaimana pula Al-Quran membantahnya? Dan apakah akar dari adanya gugatan-gugatan itu? Serta bagaimana hasil akhir dari para penggugat? Di bawah ini, penulis sajikan bagaimana Surat Al-Furqan dari ayat 1 sampai dengan ayat 31, menggambarkan gugatan itu, sekaligus membantah dan menginformasikan akar dari kehadiran gugatan tersebut.

Kajian tidak dilakukan dengan memberikan penjelasan rinci ayat per ayat, namun menggunakan kajian tanâsub al-ayât (kaitan antar ayat) yang menurut penulis berkaitan dengan pokok pembahasan. Oleh sebab itu, untuk ayat-ayat yang tidak dijelaskan secara rinci –meski penulis yakin masih sangat berkaitan erat dengan pokok pembahasan, dipersilahkan merujuk Kitab Tafsir yang Mu’tabar.

Seputar Surat Al-Furqan

Surat Al-Furqan terdiri dari 77 ayat, termasuk golongan Makiyah. Pokok pembahasan dalam surat Al-Furqan adalah berkenaan dengan pokok-pokok akidah –sebagaimana keumuman surat-surat yang tergolong makiyah, yang membahas tentang Allah, Malaikat, Nabi, Al-Kitab, Hari Akhir, dan takdir.

Surat ini dimulai dengan ungkapan mendalam untuk memuji dan memuliakan Rasulullah Saw.  Pujian ini diungkapkan oleh Allah dalam kalimat,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hambanya (Muhammad), agar ia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (QS. Al-Furqan, [25):1).

Seolah-olah Allah membuka surat ini dengan sebuah pernyataan resmi yang meyakinkan, bahwa Al-Quran benar-benar diturunkan dari Allah kepada Muhammad. Maha Suci Allah dari membuat kebohongan atas informasi ini, Maha Suci Allah dari membuat kekeliruan dengan menurunkan Al-Quran ini kepada seorang laki-laki yang bernama Muhammad bin Abdillah, seorang umî (tidak mampu membaca dan menulis) dari bangsa Quraisy. Oleh sebab itu, kuatkanlah dirimu Muhammad, dari segala tuduhan yang disampaikan para penggugat kepada Tuhanmu, kepada kenabianmu, kepada utusan yang disucikan (al-muththahharûn), yaitu Jibril Ruh Al-Amin yang mustahil melakukan perubahan terhadap wahyu yang Allah turunkan kepadamu. Oleh sebab itu pula, Maha Suci Allah atas gugatan orang-orang kafir yang menuduhmu mengada-ada. Sebab Maha Suci Allah jika membiarkan kesalahan fatal ini terjadi!

Dalam surat ini, digambarkan pula bagaimana situasi mencekam tatkala seluruh amal perbuatan manusia dipertanggungjawabkan. Kemusyrikan, gugatan, keraguan, serta penolakan terhadap Allah dan pokok-pokok akidah lainnya akan dipertanggungjawabkan seluruhnya di hadapan Allah di hari Akhir nanti.

Dan secara sekilas, Rasulullah diberi gambaran mengenai siapa musuh abadinya. Merekalah jiwa-jiwa yang sama dan menempati jasad yang berbeda. Di sepanjang zaman, seperti kaum Nuh, ‘Âd, Tsamûd, Ashhâbul Ras, Fir’aun, dan generasi-generasi lainnya yang tidak perlu Allah sebutkan, mereka melanggar dan menantang Allah. Seolah-olah Allah mengingatkan bahwa demikian pula di zamanmu Muhammad dan begitu pula pada generasi sepeninggalmu. Sebab, “Demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi, para musuh dari kalangan Al-Mujrimun” (QS. Al-Furqan, [25]:31) dan demikian pula berlaku untuk generasi pewarismu, generasi para sahabat, tabi’in, atba’ al-tabi’in serta generasi ulama-ulama hari ini.

Berbagai Macam Gugatan Kafir Quraisy

Allah SWT menggambarkan bagaimana orang Kafir Quraisy berupaya menggugat Islam dengan berbagai tuduhan. Gugatan pertama mereka tuduhkan kepada Allah SWT bahwa Dia yang Maha Suci memiliki serikat. Gugatan kedua diarahkan kepada Al-Quran. Mereka menyebut Al-Quran sebagai Al-Ifk (kabar bohong) yang diada-adakan (iftarâhu). Kabar bohong yang diada-ada ini didasari pada dua asumsi dasar, yaitu bahwa Nabi Muhammad dibantu Ahli Kitab dalam menuliskan Al-Quran (QS. 25:4) dan oleh sebab itu, mereka menganggap Al-Quran tidak lebih adalah Asâtîr Al-Awwalûn (mitologi) yang ditulis orang lain atas perintah Rasulullah (iktatabahâ) untuk kemudian disebarluaskan (QS. 25:5).

Gugatan ketiga, yaitu tergambar pada asumsi orang Kafir Quraisy yang menganggap aneh jika utusan Allah SWT masih membutuhkan makanan (ya’kul al-tha’âm) dan mencari penghidupan (yamsyî fi al-aswâq). Gugatan keempat, tergambar dari asumsi lain bahwa seorang nabi harus dibarengi malaikat untuk menemai mereka dalam pembuktian kenabiannya (QS. 25:7).

Gugatan keempat, adalah dengan menegasikan sisi-sisi kemanusiaan seorang nabi. Hal ini tergambar dalam konsep lain dalam standar kenabian. Orang Kafir Quraisy menganggap bahwa seorang nabi haruslah seseorang yang berharta (yulqâ ilaihi kanzun) dan memiliki ladang serta kebun yang luas sebagai tempat penghidupannya (takûnu lahu jannatun). (QS. 25:8). Oleh karena Muhammad Saw tidak memenuhi standar kenabian menurut pandangan mereka, maka dapat dipastikan bahwa para pengikut Muhammad (baca: sahabat) tidak lain adalah komunitas manusia bodoh yang mengikuti seseorang yang telah tersihir (rajulan mashûran). (QS. 25:8).

Bantahan Quran Dalam Surat Al-Furqan

Pertama, Allah membantah konsep ketuhanan yang digugat olah Kafir Quraisy dalam firman-Nya,

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

Dan mereka (orang Kafir Quraisy) menjadikan ilah selain Allah. Padahal mereka (ilah-ilah) itu tidak memiliki kuasa untuk menolak kemadharatan dan mendatangkan hal-hal bermanfaat bagi diri mereka. Mereka juga tidak kuasa mendatangkan kematian dan kehidupan, serta tidak mampu membangkitkan (QS. Al-Furqan, [25]: 3).

Secara sangat singkat, ayat ini membuktikan ke-Esa-an Allah dengan cara pembuktian terbalik. Seolah-olah ayat ini bertanya, adakah bukti bahwa berhala-berhala yang kalian sembah pernah menyelamatkan kalian dari marabahaya? Atau pernahkah ia menyahut permohonan kalian tatkala kalian memohon kepada mereka untuk mendatangkan hal-hal baik untuk kalian? Apakah kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat sendiri? Bukankah ketika kalian pahat, berhala-berhala itu tidak mampu berbuat apa-apa? Bagaimana mungkin sesuatu yang tak berdaya mampu menolak madharat dan mendatangkan manfaat? Apalagi menentukan hidup, mati, dan membangkitkan makhluk dari kematian?

Kedua, Allah membantah konsep al-Quran yang mereka tuduhkan dalam firman-Nya,

قُلْ أَنْزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Katakanlah Muhammad, yang menurunkan Al-Quran adalah Dzat yang mengetahui rahasia langit dan bumi, sesungguhnya Dia (Allah) Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al-Furqan, [25]:6).

Allah membantah argumen Kafir Quraisy hanya dengan menegaskan bahwa Quran benar-benar datang dari Allah. Karena bukankah kalian sendiri mengatakan bahwa Muhammad adalah manusia biasa, dia makan, minum, dan mencari penghidupan sendiri. Mungkinkah seorang manusia yang ummi lagi fakir mampu merangkai kalam yang terkandung dalam Al-Quran? Bukankah kalian yang diberi kelebihan menyusun rangkain syair, tidak sanggup menandingi bahasa dan kandungan Al-Quran apalagi Muhammad? Atau apakah kalian pernah melihat Muhammad bekerjasama dengan Ahli Kitab serta menyuruh mereka untuk menuliskan Quran? Bukankah seperti yang kalian sebut sendiri, bahwa Muhammad adalah seorang yang fakir, mungkinkah seorang fakir memiliki daya tawar untuk bekerjasama atau bahkan memiliki kuasa untuk memberi upah pada Ahli Kitab agar mereka menuliskan Quran untuk Muhammad? Dan lagi-lagi, sendainya Muhammad menyuruh mereka untuk menuliskan Al-Quran  (iktatabahâ), apakah mungkin Al-Quran yang dirangkai dalam susunan dengan bahasa arab dengan susunan yang luar biasa dapat dirangkai oleh Ahli Kitab yang berbahasa ibrani? Padahal kalian orang arab sendiri, yang faham betul bagaimana susunan bahasa harus dirangkai, tidak memiliki kuasa untuk menyusun yang semisil Al-Quran? Jadi, siapakah yang mengada-ada? Muhammad ataukah kalian?

Ketiga, kemudian Allah membantah tuduhan konsep kenabian yang diajukan ole Kafir Quraisy. Mereka mensyaratkan bahwa seorang nabi haruslah seseorang yang kaya dengan asset yang melimpah (lihat Al-Furqan, [25]:8). Kemudian Allah SWT berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَيَجْعَلْ لَكَ قُصُورًا

“Maha Suci Allah, jika Dia berkehendak, Dia akan melimpahkan sesuatu yang lebih baik (dari standar manusia), yaitu memberikan kebun-kebun (jannâtin) yang mengalir di bawahnya air dan membangunkannya Istana-istana (qushûran)”. (QS. 25:10).

Jika kita perhatikan, yang dimaksud lebih baik (khairan) dijelaskan oleh Allah dengan menggunakan lafadz jamak bukan mufrad, seperti jannatin dan qushuran. Ini berarti, jika standar kenabian adalah kekayaan (kanzun) dan kebun (jannatin) dalam bentuk mufrad, maka Allah SWT akan memberikan sesuatu yang lebih baik, yaitu harta yang berupa kebun-kebun (jannâtin) sekaligus kekuasaan yang diisyaratkan dari lafadzh qushûran (istana-istana) dalam bentuk jamak. Sebab al-qishra (istana) tidak mungkin dikelola tanpa memiliki kekuasaan. Anugerah kekuasaan yang Allah SWT berikan kepada Nabi Muhammad Saw., bukan hanya satu kebun dan satu istana, tapi kebun-kebun dan istana-istana yang sangat banyak (jannâtin dan qushûran, dalam bentuk jamak). Itupun jika Allah SWT berkehendak!

Sebab, untuk sebagian Nabi Allah yang dikehendaki, kekuasaan itu dianugerahkan. Seperti kita lihat bagaimana kekuasaan dan kekayaan Nabi Daud dan Sulaiman seperti yang akan dijelaskan dalam surat-surat berikutnya. (Lihat QS. Al-Syu’arâ, Al-Qashash, dan Al-Ankabut). Namun untuk kasus Nabi Muhammad Saw., Allah SWT memiliki rencana lain dan meyakini rencana Allah SWT adalah bagian dari keimanan dalam Islam.

Keempat, untuk tuduhan lain sesisanya, Allah cukup mengajak manusia untuk mengkaji ulang gugatan mereka.

انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا

“Lihatlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu. Sesatlah mereka, maka mereka tidak sanggup lagi mendapatkan jalan (untuk menentang kerasulanmu” (QS. Al-Furqan, [25]: 9).

Lihatlah bagaimana Kafir Quraisy mengajukan keberatan, bahwa seorang Rasul tidak boleh makan dan mencari penghidupan dan bahwa para pengikut rasul (baca: sahabat) adalah orang-orang bodoh yang taklid buta pada seseorang yang tersihir (Lihat Surat Al-Furqan, [25]:8).

Jika benar bahwa seorang Rasul harus seperti malaikat, yang tidak membutuhkan dunia, lalu apa arti dari gugatan mereka yang menghendaki bahwa nabi haruslah seseorang yang kaya, “…kenapa Allah tidak memberikan harta dan kebun yang ia makan darinya?” (QS. Al-Furqan, [25]:8). Untuk tujuan apa Allah SWT berikan harta dan kebun sebagai sumber penghidupan, jika seorang Rasulullah harus hidup seperti malaikat? Dengan kata lain, konsep kenabian manakah yang kalian anggap benar? Apakah seorang rasul itu harus seperti malaikat –yang sangat tidak butuh unsur duniawi, ataukah Rasul itu harus seperti konglomerat –yang sangat butuh unsur duniawi?

Terakhir, jika para sahabat adalah pengikut seorang lelaki yang terkena sihir, siapakah yang menyihir Rasulullah? Apakah Muhammad tersihir oleh Quran yang kalian tuduh sebagai karya Muhammad dengan bantuan Ahli Kitab? Atau bukankah di tempat lain kalian menuduh Rasulullah sebagai tukang sihir? (Lihat QS. Yunus, [10]:2). Adakah bukti yang mengindikasikan bahwa Al-Quran bermuatan mantera sihir seperti mantera-mantera yang dikenal luas oleh kalangan ahli sihir di Mekkah? Apakah kalian sengaja menutup-nutupi kehebatan Al-Quran yang memiliki susunan dan kandungan yang melebihi syair kalian? Bukankah kalian sendiri tahu persis, bahwa mantera-mantera sihir di zaman kalian memiliki susunan kalimat yang kefasihannya di bawah syair kalian? Bagaimana mungkin sesuatu yang lebih fasih susunannya dan lebih dalam kandungannya daripada syair kalian dapat disamakan dengan sihir?

Untuk membantah gugatan-gugatan terakhir ini, Al-Quran cukup meminta para pembaca,

انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ!

Lihatlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu!

Lihatlah bagaimana argumentasi-argumentasi yang terlalu dipaksakan itu diajukan pada Muhammad? Lihatlah bagaimana konsep kenabian menurut mereka? Lihat pula bagaimana konsep Quran menurut mereka? Lihat pula bagaimana konsep tuhan menurut mereka? Betapa menggelikannya!

فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا!

Sesatlah mereka, maka mereka tidak sanggup lagi mendapatkan jalan (untuk menentang kerasulanmu!

Setelah Allah SWT membantah dengan sangat tegas kesesatan ini, kemudian Allah memberi informasi tentang akar persoalan munculnya gugatan-gugatan di atas, yaitu mereka mendustakan adanya hari kiamat (Al-Sâ’ah) seperti tergambar dalam firman-Nya,

بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ وَأَعْتَدْنَا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا

Bahkan mereka mendustakan hari kiamat (al-Sâ’ah) dan Kami siapkan neraka bagi mereka yang mendustakan kiamat (QS. Al-Furqan, [25]:11).

Gugatan itu Berevolusi!

Gugatan-gugatan terhadap konsep Allah, Al-Quran, Kenabian, hingga sahabat ternyata mengalami evolusi yang sangat luar biasa. Hal ini telah diisyaratkan oleh Surat Al-Furqan,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi, musuh mereka dari kalangan Al-Mujrimin. Dan cukuplah Tuhanmu pemberi petunjuk dan pertolongan (QS. Al-Furqan, [25]:31).

Al-Mujrimin dalam ayat ini, menurut Ibnu Katsir, yaitu orang-orang yang mengajak manusia kepada kesesatan dan kekufuran mereka. Ibnu Katsir melanjutkan, “Orang-orang musyrik menghalangi manusia agar tidak mengikuti Al-Quran, agar tidak ada seorang pun yang menjadikannya hidayah, dan agar metode mereka mampu mengalahkan metode Al-Quran”. (Ibnu Katsir, 6/109).

Saat ini kenabian sudah ditutup (lihat QS. Al-Ahzab, [33]: 40), namun para ulama yang hadir saat ini, mereka adalah pewaris Nabi. Dalam sebuah hadis disebutkan,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“…sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan al-ilmu, siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mendapatkan bagian yang melimpah” (HR. Tirmidzi)

Apa yang Rasulullah wariskan pada umat saat ini adalah ilmu, dan yang dimaksud ilmu dalam hadis ini adalah Al-Quran dan Sunnah Al-Shahihah sebagaimana disebutkan dalam hadis hasan menurut tahqiq Syaikh al-Bani dari riwayat Imam Malik,

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله وسنة رسوله

Aku telah meninggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh pada keduanya; yaitu Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya (HR. Imam Malik)

Dari uraian di atas, Al-Quran dan Sunnah menjelaskan bahwa evolusi gugatan pada agama hanya berubah gaya, intinya sama. Al-Mujrimun kontemporer adalah mereka orang-orang yang mengajak manusia kepada kesesatan dan kekufuran, menghalangi manusia agar tidak mengikuti Al-Quran sebagai hidayah, dan agar metode ilmu mereka lebih digandrungi daripada manhaj Qurani. Konsep Allah, konsep Quran, konsep kenabian dan sahabat dipreteli oleh Al-Mujrimun kontemporer dengan satu kerangka yang sama, yaitu relativitas ilmu.

Absolusitas kebenaran yang dikandung Al-Quran ditarik ke wilayah relatif dari pintu sumber ilmu (ontologi). Dalam ilmu al-Mujrimin, wahyu tidak menempati sumber ilmu tertinggi (al-khabar al-shâdiq). Bahkan dalam kerangka ilmu al-Mujrimun, wahyu ditempatkan pada posisi terendah yaitu sebagai mitologi (asathir al-awwalun) sebab wahyu tidak bisa dibedah lewat pisau ilmiah yang bernama eksperimen. Inilah yang kemudian menciptakan makhluk-makhluk yang tidak percaya pada adanya objek metafisik, al-mughîbât (hal-hal ghaib) yang kita sebut saat ini sebagai materialisme, yaitu sebuah faham yang meyakini bahwa yang benar-benar ada adalah hal yang bersifat materi. (Bagus, Kamus Filsafat, 593-600:2000).

Dengan sangat tepat Allah SWT menggambarkan aqidah pokok materialisme ini sebagaimana disebutkan dalam ayat ke-21,

وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَى رَبَّنَا لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا

Dan berkatalah orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, “Kenapa tidak diturunkan malaikat kepada kami, atau kami melihat Tuhan kami”. Sungguh mereka telah sombong dengan diri mereka dan membangkang dengan pembangkangan yang luar biasa (QS. Al-Furqan, [25]:21).

Dari materialisme inilah kemudian gugatan-gugatan selanjutnya diajukan. Benarkah Tuhan itu ada? Jika ada mana buktinya? Benarkah Al-Quran tidak tercampuri kesalahan? Kalau benar mana buktinya? Benarkah Jibril itu ada dan bertugas menyampaikan wahyu? Kalau benar mana buktinya dan bagaimana bisa Jibril yang tercipta dari cahaya memasuki dimensi yang bersifat materil? Kalau jibril memasuki ruang materil dan membawa pesan bahasa, maka apakah Jibril telah memasukkan unsur-unsur budaya ke dalam Al-Quran? Kalau begitu, apakah al-Quran adalah produk budaya? Benarkah Muhammad adalah seorang nabi? Kalau benar mana buktinya? Bukankah dia melakukan kesalahan seperti manusia biasa, menikah dan memiliki syahwat? Kalau benar Muhammad adalah seorang nabi, mungkinkah Al-Quran yang tidak mungkin salah disampaikan pada dan oleh seseorang yang sangat mungkin melakukan kesalahan? Siapakah yang menuliskan Al-Quran? Bukankah para sahabat nabi? Jika nabi saja mungkin melakukan kesalahan, apatah lagi seorang sahabat? Jadi mungkinkah Al-Quran tidak tercampuri kesalahan dan mengandung kebenaran absolut? Jika tuhan pasti absolut, maka apakah Al-Quran yang produk budaya itu juga terbebas dari segala macam kesalahan? Jika demikian adanya, di manakah letak kesalahan-kesalahan itu? Mungkinkah menyusun kembali al-Quran dengan sebuah metode baru, metode yang tidak dilakukan oleh mufassirin sebelumnya? Mungkinkah Al-Quran edisi kritis dapat diwujudkan dan lebih menggambarkan kebenaran daripada kebenaran yang diyakini oleh orang-orang muslim pada umumnya?

Kemudian gugatan tidak berhenti di sana. Gugatan al-Mujrimun dilanjutkan pada objek metafisik lainnya. Benarkah surga dan neraka ada? Mungkinkah informasi Al-Quran mengenai adanya hari kiamat dapat diyakini sebagai sebuah kebenaran? Bagaimana membuktikannya? Bukankah surga dan neraka adalah objek metafisik yang susah dibuktikan keberadaannya? Jika susah dibuktikan, kenapa kita harus meyakini sesuatu yang belum terbukti? Lalu kemudian untuk apa manusia beramal? Jika mereka beramal untuk surga dan neraka, layakkah manusia bekerja untuk sesuatu yang tidak pasti adanya?

Kira-kira begitulah gugatan berevolusi. Dari term al-Musyrikun menuju term al-Mujrimun. Dari gugatan harta dan kekuasaan menuju gugatan ilmu dan hegemoni. Dari sub term asâthir al-awwalûn atau dongeng dan kisah orang lalu menuju sub term mitologi atau dongeng suci mengenai kehidupan Dewa dan makhluk halus di suatu kebudayaan tertentu.

Masing-masing mamiliki alur berbeda dengan tujuan yang sama, bahwa Al-Quran tidak lagi layak dijadikan hidayah, alat menilai, sumber ilmu, dan pusat kebenaran sebab berawal dari pusat yang tak teridentifikasi, yaitu sebuah objek yang tidak terindra, terukur, dan terobservasi. Al-Mujrimun di sepanjang masa akan tetap menggungat konsep-konsep pokok ajaran Islam, mulai dari konsep Tuhan, Al-Quran, Malaikat, Kenabian, dan para sahabat Rasul. Tidak perlu penulis tambahkan bagaimana bantahan terhadap gugatan-gugatan kontemporer di atas, banyak tulisan tersebar mengenai hal itu yang bisa dijadikan pegangan terpecaya.

Nasib Akhir Para Penggugat

Yang tidak kalah pentingnya adalah potret Surat al-Furqan mengenai nasib akhir (jazâ-an wa mashîran). Dalam ayat ke 12 hingga 14, secara singkat Allah SWT menggambarkan bagaimana kesudahan para penggugat ini, entah ia berada di zaman Nabi dengan terminologinya atau berada di hari ini dengan segala logika ilmiahnya.

إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا، وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا، لَا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُورًا وَاحِدًا وَادْعُوا ثُبُورًا كَثِيرًا

Apabila Neraka melihat mereka (lewat) dari tempat jauh, mereka orang-orang kafir mendengarnya penuh amarah dan bergemuruh. Apabila mereka kemudian dilemparkan ke tempat sempit yang ada di neraka, sambil dibelenggu mereka memohon agar segera dibinasakan. Janganlah kalian minta segera dibinasakan satu kali, mintalah untuk dibinasakan beberapa kali! (QS. Al-Furqan, [25]: 12-14)

Subhanallah, betapa dahsyatnya siksa yang akan dialami oleh para penggugat yang mendustakan adanya hari Kiamat (Al-Sâ’ah), mereka yang hanya meyakini kepastian adanya objek-objek yang terindra (materil) seraya menegasikan adanya al-mughibât (hal-hal ghaib) yang orang-orang bertaqwa meyakininya sebagai aqidah pokok (lihat QS Al-Baqarah, [2]:1-5).

قُلْ أَذَلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ كَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا

Katakanlah Muhammad, “Apakah siksa yang akan mereka alami itu lebih baik ataukah surga yang kekal yang telah dijanjikan bagi orang-orang bertaqwa, yang surga itu merupakan balasan serta tempat kembalinya mereka” (QS. Al-Furqan, [25]:15).

Renungan Akhir

Keyakinan tentang adanya hari akhir adalah pokok penting, sepenting meyakini adanya Allah SWT. Oleh sebab itu, dalam Al-Quran, keimanan terhadap keduanya seringkali digandengkan. Lihat QS Al-Baqarah, 62, 126, 177, 228, 232, 264; QS. Ali Imran, 114; dan QS. An-Nisa, 39, 59.

Untuk menutup tulisan ini, alangkah baiknya penulis tuturkan kisah seorang kawan yang bertaubat dari akidah materialisme. Ia bertanya, “Untuk apa kau sholat?”. Kawannya menjawab, “Untuk mendapatkan ridha Allah dan rahmat-Nya”. Ia pun bertanya kembali, “Bagaimana bentuk konkrit ridha dan rahmat-Nya itu?” Kawannya menjawab lagi, “Di dunia dengan kebahagiaan (hasanah) dan di akhirat mendapat surga dan jauh dari neraka.” Akhirnya ia berkomentar, “Ada orang yang tidak sholat dapat merasa bahagia juga. Dan tentang surga dan neraka, bagaimana kalau surga dan neraka itu tidak ada?.” Sang kawan menjawab penuh tenang, “Bahagianya orang sholat hanya dirasakan oleh yang sholat, sedangkan bahagianya orang yang tidak sholat bisa juga dirasakan oleh orang yang sholat. Dan tentang surga dan neraka, jika benar-benar tidak ada, saya tidak rugi karena tidak perlu masuk neraka. Saya sudah cukup bahagia dengan kebahagiaan sholat yang tidak pernah dirasakan oleh orang-orang yang tidak sholat. Namun bagaimana jika surga dan neraka itu benar-benar ada?”

Wallahu ‘alam