Tag

, ,

Oleh: Yudi Wahyudin*)

Dalam tulisan sebelumnya, penulis paparkan bagaimana gugatan kafir Quraisy ditujukan kepada konsep akidah dan bagaimana pula bantahan Quran terhadapnya. Tulisan sebelumnya yang berjudul Materialisme Para Penggugat Islam ini, menunjukkan bahwa gugatan ini berevolusi dalam wujud baru, meski dengan pesan yang tetap sama, yaitu gugatan yang berpangkal pada sebuah faham yang mengatakan bahwa yang benar-benar ada adalah hal yang bersifat materi (materialisme) dan keyakinan yang mengatakan bahwa satu-satunya kebenaran yang absolut adalah kebenaran relatif.

Oleh sebab itu, untuk melancarkan serangannya, materialisme menggunakan pisau relativitas kebenaran dengan perspektif empirik untuk menolak adanya wujud metafisik dan kemungkinan manusia mencapai gagasan absolut mengenai kebenaran. Ujung-ujungnya, gagasan materialisme ini hendak mendedahkan konsep Ketuhanan dan Risalah Dakwah Kenabian. Dalam materialisme, perjuangan dakwah atau misi penegakan kebenaran risalah tidak lagi menjadi penting, sebab masing-masing manusia mempunyai gagasan relatif mengenai konsep Tuhan yang bisa ia cari dari agama mana saja atau bahkan tanpa tuhan sekalipun.

Gagasan ini hidup cukup lama, sejak para pembangkang Kaum Nuh, hingga kafir Quraisy di Mekkah dan aliran-aliran penggugat Islam hari ini. Tulisan pertama ini seluruhnya bersumber pada Surat Al-Furqan, dari ayat pertama hingga ayat ke 31.

Tentu saja, gugatan ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus ada seorang yang bertindak untuk menjelaskan bahwa gugatan-gugatan ini seluruhnya salah. Dalam istilah Syaikh Al-‘Utsaimin, seseorang ini disebut sebagai Mujahid Dakwah (al-rijâl al-dakwah). Menghadirkan para mujahid dakwah adalah sekuel terakhir yang tersirat dalam surat Al-Furqan. Orang muslim cukup beruntung, ternyata mereka tidak diperintahkan untuk mencari bantahan terhadap gugatan-gugatan yang diajukan Al-Mujrimun, sebab bantahan itu telah Allah jelaskan sedemikian kuatnya. Oleh sebab itu, persoalan terakhir tiada lain adalah mestinya terlahir para mujahid. Rijâl Al-Dakwah ini harus dilahirkan secara aktif, bukan ditunggu kedatangannya secara pasif. Demikianlah firman Allah,

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا

Seaindainya Kami (Allah) berkehendak, Kami pasti melahirkan pemberi peringatan di setiap tempat (QS. Al-Furqan, [25]:51)

Oleh karena Allah tidak melahirkan pemberi peringatan di setiap tempat, sebab hanya Muhammad Rasulullah Saw., yang diutus untuk seluruh manusia di akhir zaman, maka setiap mukmin memiliki kewajiban mulia untuk melahirkan para pewaris nabi, para ulama, para Rijâl Al-Dakwah, para mujtahid, para mujaddid, dan para mujâhid. Kewajiban manusia ini muncul bukan karena Allah tidak sanggup meng-ada-kan para pemberi peringatan (Maha Suci Allah dari asumsi yang seperti ini), tapi Allah SWT sedang memberikan batu ujian agar manusia berbuat sebaik dan semaksimal mungkin dalam lingkaran kehidupan dan kematian serta dalam berhadapan dengan tugas-tugas Rabbani yang terangkum dalam Al-Furqan.

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Maha Berkah dan Tinggi Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya, supaya ia menjadi pemberi peringatan pada seluruh alam (QS. Al-Furqan, [25]:1)

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ.

Maha Berkah dan Tinggi Allah yang di tangan-Nya ada kerajaan dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dia lah yang telah menciptakan mati dan hidup, supaya Allah dapat mengujimu, siapa di antara kalian yang memiliki amal paling baik (QS. Al-Mulk, [67]:1-2).

Oleh sebab itu, tulisan ini akan membahas bagaimana tugas Al-Rijal Al-Dakwah itu harus dimulai serta bagaimana keriteria dan ‘senjata’ yang dibutuhkan oleh Mujahid Quran itu sendiri. Seperti dalam tulisan pertama, maka tulisan kedua ini juga akan mencoba melakukan kajian ayat yang terentang luas dalam Surat Al-Furqan, dari ayat 52-77 dengan metodologi yang sama, yaitu mencari kaitan antar ayat dengan semangat Al-Furqan, yaitu pemisah antara hak dan bathil.

Memulai Tugas Sebagai Rijal Al-Dakwah

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

Maka janganlah kalian mentaati orang-orang kafir, berjihadlah pada mereka (menggunakan Al-Quran) dengan jihad yang besar (QS. Al-Furqan, [25]:52)

Untuk memulai tugasnya, para rijâl al-dakwah disyaratkan untuk memahami siapa lawan dan senjatanya. Dalam ayat di atas, diisyaratkan secara tegas bahwa musuhnya adalah kekafiran dan senjata untuk melawan mereka adalah Al-Quran.

Jika kita bertanya, lalu siapa kawan dan lawan kita? Jawabnya, kawan kita adalah mereka yang sama-sama menjadikan Al-Quran sebagai senjata ampuh untuk melawan kekafiran dan lawan kita adalah mereka yang menjadikan Al-Quran sebagai sasaran tembak.

Lalu kenapa Al-Quran? Bukan yang lainnya? Lawan kita sangat banyak, kuat, dengan persenjataan lengkap, teknologi canggih, kedigdayaan kapital yang disertai keangkuhan media? Sanggupkah kita melawan mereka? Padahal kita hanya dipersenjatai Al-Quran? Jawabnya, mungkin bahkan sangat mungkin.

Menurut Sayyid Quthb, Al-Quran mengandung kekuatan dan kekuasaan, pengaruh yang mendalam, daya tarik yang tiada banding, tidak dapat dibantah oleh para pembantah, bahkan Al-Quran telah mengguncangkan mereka dengan guncangan yang dahsyat. Tidak heran, jika pengaruhnya ini telah sanggup meluluhlantahkan seluruh rencana dan kebusukan orang-orang kafir.

Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا

Tidakkah kalian perhatikan, bagaimana Allah Tuhanmu, memanjangkan bayang-bayang. Andaikan Allah berkehendak, Allah pasti akan membuat bayang-bayang itu terdiam kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk (QS. Al-Furqan, [25]:45).

Dalam ayat ini, tamtsil menggunakan tiga tahap. Pertama, bayang-bayang. Menyebut bayang-bayang, tapi yang hendak ditunjukkan adalah cara kerjanya. Bayang-bayang yang memanjang –sebagaimana kita ketahui, berarti melalui proses rumit dan tidak secara sekaligus. Proses bumi berevolusi para porosnya dan proses revolusi pada mataharilah yang Allah SWT gunakan untuk menghasilkan bayang-bayang kecil, memanjang, kemudian menghilang. Begitulah setiap hari bayang-bayang tercipta.

Tamtsîl pertama menunjukkan bahwa penguasaan lawan terhadap kita atau penguasaan kita terhadap lawan selalu melalui proses dan tahapan yang tidak sekaligus. Lawan yang lemah atau kuat tidak terwujud dengan sendirinya, sebagaimana lemah dan kuatnya orang mukmin yang juga tidak terwujud secara sekaligus. Dalam tamtsil pertama, Quran menunjukkan bahwa kejayaan dan kemunduran adalah bagian kepastian yang harus terjadi. Oleh sebab itu, tugas manusia sangatlah sederhana. Ia diberikan pilihan untuk berdiri menjadi kawan atau lawan Al-Quran?

Kedua, Sâkinan (tidak bergerak). Meski manusia memahami adanya bayang-bayang melalui proses alam yang sedemikian teliti, Allah Maha Berkuasa untuk mengadakan bayang-bayang tanpa melalui proses evolusi dan revolusi, membuatnya tetap tidak memanjang, statis dan tidak bergerak. Namun dalam ayat ini, Allah hendak mengajarkan kepada kita tentang sesuatu yang berharga, bahwa Allah tetap membuat bayang-bayang itu bergerak.

Oleh sebab itu, di sinilah letak pentingnya tamtsîl kedua. Bahwa seluruh proses itu –baik kejayaan dan kemunduran, diciptakan oleh Allah untuk menguji manusia-manusia berkualitas, manusia-manusia yang menaruh ketaatan dalam hatinya, manusia-manusia yang siap mengorbankan jiwa dan raganya, manusia-manusia yang mengerahkan segala daya dan upayanya, untuk menjaga kemuliaan agama, dengan kegigihan dan kesabaran. Sebab jika Allah menghendaki, Allah berkuasa untuk menetapkan roda peradaban (sâkinan, tetap tidak berubah), tetap menjadi peradaban mundur atau maju. Jika Allah menghendaki, kejayaan akan terus melekat pada umat Islam dan kemunduran akan terus menempel pada orang-orang kafir.

Ketiga, matahari sebagai petunjuk adanya bayang-bayang. Dengan adanya matahari, kita bisa melihat bagaimana bayang-bayang itu berproses. Ada sebuah ungkapan menarik dari para mufassir, “Sesuatu dapat diketahui dengan sesuatu yang sebaliknya”. Seandainya tidak ada matahari yang terang benderang, kita tidak bisa melihat bayang-bayang yang gelap dari setiap benda.

Selain bertujuan untuk menguji manusia, maka tamtsil ketiga menjelaskan bahwa adanya kebatilan tiada lain adalah untuk mengidentifikasi kebenaran. Begitu pula jika kebenaran ditegakkan, kita akan mudah melihat bagaimana wujud kebathilan itu sendiri. “Sesuatu dapat diketahui dengan adanya sesuatu yang sebaliknya.” Tamtsil ketiga ini menjadi inti dari Al-Furqân (pemisah), inti dari batas jelas dan tegas antara Al-Haq dan Al-Bathil. Dengan kata lain, dengan adanya batas absolut kebenaran, kita dapat melihat batas absolut kebatilan.

Mengenal Para Pejuang Quran

Dalam surat Al-Furqan ini, Allah menjelaskan secara rinci siapa yang dimaksud kawan yang harus dilahirkan itu. Karakteristik kawan inilah yang kemudian dibutuhkan oleh para Mujahid untuk melawan kekafiran dengan Al-Quran. Allah berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا، وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا، وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا، إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا، وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا، وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا، يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا، إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا، وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا، وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا، وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا، وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا، أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا، خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا، قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا.

Dan hamba-hamba Allah itu adalah orang yang berjalan di muka bumi dengan haunan, apabila Al-Jâhilûn berbicara kepada mereka, hamba Allah menjawab, ‘Salâman’. Dan hamba-hamba Allah itu adalah orang-orang yang menghabiskan malamnya dengan sujadan dan qiyâman. Dan hamba-hamba Allah itu adalah orang-orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan Kami, jauhkanlah kami dari jahanam, karena sesungguhnya siksa jahannam itu tiada henti. Sesungguhnya jahanam itu sejelek-jeleknya tempat tinggal dan diam’. Dan hamba-hamba Allah itu adalah orang-orang yang apabila berinfaq, mereka tidak berlebihan dan tidak pelit, tapi seimbang diantara keduanya. Dan hamba-hamba Allah itu adalah orang-orang yang tidak menyembah kepada selain Allah, tidak membunuh jiwa yang telah diharamkan oleh Allah kecuali dengan jalan Al-Haq, mereka tidak berzina, karena barangsiapa yang melakukannya, dia akan mendapatkan balasan siksanya. Siksanya akan dilipatgandakan pada hari kiamat serta kekal dalam kehinaan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih, mereka itulah yang akan Allah gantikan kesalahan-kesalahan mereka dengan kebaikan, dan Allah Maha Ampun dan Maha Penyayang. Siapa yang bertaubat dan beramal shalih, dia (akan) bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat. Dan hamba-hamba Allah itu adalah orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu serta apabila menemui hal-hal yang lagha, dia akan melewatinya dengan penuh kemuliaan. Dan hamba-hamba Allah itu adalah orang-orang yang apabila diingatkan oleh ayat-ayat Kami, dia tidak bertindak seolah-olah orang tuli dan buta. Dan hamba-hamba Allah itu adalah orang-orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah pada kami dari istri dan anak-anak kami penyejuk hati dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa’. Mereka itulah yang aka dibalas dengan tempat tinggi dan mereka akan mendapatkan sambutan tahiyyat dan salâm. Mereka kekal di dalam surga, (karena surga) adalah sebaik-baiknya tempat tinggal dan diam. Katakanlah Muhammad kepada orang-orang musyrik, ‘Tuhankyu tidak akan mengindahkanmu, kecuali jika kalian berdoa kepada-Nya. (Tapi bagaimana kamu dapat berdoa kepada-Nya) padahal kalian telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (azab) pasti menimpa kalian. (QS. Al-Furqan, [25]: 63-77).

Penjelasan Lafadzh Dalam Kitab Tafsir

  1. Haunan : tenang (sakînah), berwibawa (waqâr), tidak sewenang-wenang, dan tidak sombong
  2. Al-Jâhilûn : yaitu al-sufahâ atau orang-orang bodoh, karena menolak hal yang sudah jel
  3. Salâman : pada ayat 63, salaman berarti tidak melawan kebodohan dengan kebodohan, tidak berkata kecuali yang benar. Mujahid yang berkata, ‘Salâman’ dalam ayat ini berarti sadîdan atau perkataan yang mengandung kebenaran dan jawaban yang tepat. Sedangkan salâman dalam ayat 75 berarti ungkapan salam dari para malaikat ketika seorang mukmin memasuki surga.
  4. Sujjadan dan Qiyâman : yaitu sholat, sebab sujud dan qiyam merupakan rukun sholat, yaitu berarti menghabiskan malamnya untuk sholat malam (qiyâm al-lail/tahajud), ini semakna dengan hadis Nabi Saw., yang berbunyi, “Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika dia bersujud” (HR. Muslim) atau dengan QS. Al-Sajdah, [32]:16).
  5. Al-Zûr : adalah bohong, kefasikan, dan kebathilan.
  6. Al-Laghwu: adalah ungkapan dan pekerjaan yang tidak bermanfaat dan mengandung hal-hal jelek. Imam Ibnu katsir berpendapat bahwa al-Laghwu di sini berarti al-zûr itu sendiri
  7. Tahiyyat: yaitu kemuliaan dan kehormatan

 

Penjelasan Ayat Secara Umum

Surat Al-Furqan dari ayat 63 hingga 77 menjelaskan bagaimana sikap dan karakter yang harus dimiliki para ‘Ibâd Al-Rahmân, para Rijâl Al-Dakwah, atau Mujâhidîin yang siap berjihad melawan kekafiran dengan senjata al-Quran.

Al-Syakhsyiyyah Al-Afrâdiyyah (Karakter Individu)

  • Yamsyûna ‘Alal Ardhi (Ayat 63)

‘Ibâd Al-Rahmân bukanlah seseorang yang tinggal diam, menunggu dan bersikap pasif. Mereka senantiasa yamsyûna, berjalan di muka bumi serya mengambil pelajaran dari apa yang mereka lihat dan temukan. Dalam konteks yang lebih luas, Allah SWT berfirman memerintahkan manusia untuk, “Berjalanlah di muka bumi dan lihatlah!.” Ayat yang serupa ini disebutkan dalam QS. Ali Imrân, [3]:137, QS. Al-Nahl, [16]:36, QS. Al-Naml, [27]:69, QS. Al-‘Ankabut, [29]:20, QS. Al-Rûm, [30]:42. Ayat-ayat tersebut menggunakan lafadzh sâra (سار) – yasiru (يسيروا) yaitu mengandung arti daraja (درج, melangkah). Sedangkan masya (مشى) – yamsyi (يمشى) berarti sâra ‘alâ rijlaihi (سار على رجليه), yaitu berjalan dengan kedua kakinya.

Dalam banyak ayat disebutkan perbedaan mukmin yang berdiam diri dengan mukmin yang bergerak seraya melangkahkan kakinya untuk berjihad. Lihat QS. An-Nisa, [4]:95; QS. Al-Taubah, [9]:46 dan 86 Meski nanti dibedakan antara orang yang memiliki niat tapi tidak bisa berjihad karena ‘udzur, seperti sikap sahabat yang tidak kebagian kendaraan dalam perang Tabuk. Karena jarak tempuh dari Madinah ke Tabuk sangat jauh, ada dan tidak adanya kendaraan dalam ekspedisi ini menjadi dharuriyyah (penting). Bagi orang-orang yang tidak memiliki keinginan sama sekali untuk bergerak jihad, Allah SWT mencap mereka sebagai orang-orang yang tidak beriman. (Lihat QS. At-Taubah, [9]:45-46). Perbedaan ini nampak pada ganjaran yang akan diterima oleh orang-orang yang bergerak dibanding dengan orang-orang yang berdiam diri (Lihat QS. An-Nisa, [4]:95). Allah menampakkan dan menyembunyikan musuh sebagai batu ujian bagi orang mukmin hingga dapat muncul orang-orang yang berjihad (secara aktif) dan orang-orang sabar (secara pasif). (Lihat QS. Muhammad, [47]:30).

Sifat berdiam diri, duduk menunggu, tidak bergerak secara aktif adalah tercela, bahkan termasuk bagian dari sifat-sifat kemunafikan yang dimiliki orang-orang Arab Badui dan Bani Israil. Sambil melecehkan perintah Allah, Bani Israil berkata kepada Musa ‘alaihissalâm,

Mereka (Bani Israil) berkata kepada Musa, “Sesungguhnya kami tidak akan pernah masuk ke sana (Baitul Maqdis) selama penduduk (orang-orang kejam) tetap berada di sana. Pergilah engkau bersama Tuhanmu. Berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami akan menunggu di sini (hasilnya).” (QS. Al-Maidah, [5]:24).

Mengenai ayat ini, Dr. Abdul Fatah Al-Khalidi memberikan komentar dalam bukunya Ma’a Qashash Al-Sâbiqin fi Al-Quran,

Kalau kita perhatikan ungkapan Quran mengenai sikap mereka, maka kita dapat menyimpulkan hal-hal berikut. Pertama, Bani Israil termasuk para pengecut. Sikap pengecut ini menjadi penghalang mereka untuk berjihad, sebab kekerdilan tidak sanggup menerima ajakan kegagahan jihad. Kedua, Bani Israil telah melecehkan Musa ‘alaihissalâm dengan mempertontonkan etika biadab. Mereka berkata, ‘Pergilah engkau bersama Tuhanmu!’. Ini dapat kita fahami, sebab para pengecut adalah mereka yang kehilangan rasa malu. Bani Israil telah mengumpulkan kedua sifat ini, pengecut dan tidak punya rasa malu. Ketiga, Bani Israil telah membiarkan Nabi Musa ‘alaihissalam, penyelamat dan pembebas mereka, sendirian berperang. Dan inilah yang dilakukan oleh para pengecut hari ini, mereka meninggalkan para mujahid berjihad sendirian di medan perang. Keempat, mereka berkata kepada Musa ‘alaihissalâm, ‘Pergilah engkau berjihad dengan Tuhan-Mu’. Lafad rabbu-Ka (kamu) menggunakan mufrad bukan jamak seperti rabbuna (kami), menunjukkan dengan sangat jelas bahwa pada sampai pada saat itu, mereka tidak mengakui Allah sebagai Tuhan mereka. Seolah-seolah mereka tidak menginginkan Tuhan Musa yang telah mewajibkan mereka syariat jihad. Itulah sebabnya mereka mengakui Allah sebagai Tuhan Musa saja. Kelima, ‘Kami akan duduk-duduk saja di sini!’. Mereka duduk karena benci kepahlawanan, ketundukan pada syariat, dan panggilan jihad! Mereka duduk karena lemah iman, dan iman yang lemah ini telah mengubur kemuliaan dan kehebatan dalam hati mereka. Hingga mereka lebih memilih duduk dan terhina daripada memilih jihad dan hidup mulia (Al-Khalidi, 1988: 215-216)

  • Haunan (ayat 63)

Haunan adalah gambaran sebuah kepribadian, karakter, mentalitas yang muncul dari seorang ‘Ibâd Al-Rahmân, para mujahid, dan para Rijal Al-Dakwah. Yamsyûna (berjalan dengan kaki) menggambarkan sikap aktif sekaligus sederhana. Ia tidak perlu mengada-ada, bicara dengan retorika dusta, bersikap diplomatis-pragmatis. Mereka berjalan secara Haunan, yaitu melangkah penuh dengan kemudahan, tanpa kesombongan, tanpa dibuat-buat, tidak membusungkan dada, tidak memalingkan wajah, serta tidak lepas kendali. Haunan adalah wibawa dan kekuatan. Haunan bukan berarti berjalan lemah lembut, menundukkan kepala, menjatuhkan badan seperti yang seringkali ditampilkan oleh orang-orang yang ingin dilihat soleh oleh orang lain.

Begitulah Rasulullah Saw., berjalan. Beliau telah menggabungkan kerendahhatian dan kekuatan, menggabungkan kecepatan berjalan dengan ketenangan. Ali bin Abi Thalib melihat kecepatan berjalannya Rasulullah seperti beliau menapaki jalan menurun. Jika beliau disapa, maka dengan segera ia akan menghadapkan seluruh badannya, bukan hanya wajahnya.

  • Yabîtûna Lirabbihim Sujjadan wa Qiyâman (ayat 64)

Jika yamsyûna haunan adalah karakteristik mujahid di waktu siang, maka Yabîtûna Lirabbihim Sujjadan wa Qiyâman adalah karakteristik mereka di waktu malam. Bagai singa di waktu siang dan bagai rahib di waktu malam. Berwibawa di hadapan manusia dan merendah di hadapan Allah SWT.

Para mujahid menghabiskan malamnya untuk Sujjadan wa qiyâman. Sujud dan Qiyam adalah rukun shalat. Para mufassir mengatakan bahwa kalimat sujjadan (dalam posisi sujud) lebih didahulukan dari kalimat qiyâman (dalam posisi berdiri) merupakan gambaran betapa dekatnya para mujahid dengan Allah di waktu malam. Sujud adalah posisi ketika seorang hamba sangat dekat dengan Allah. Sedangkan sepertiga malam adalah waktu ketika Allah begitu dekat dengan hamba-Nya. Subhanallah! Tidak ada yang melebihi kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT di dunia, kecuali ia sedang bertahajud, bersimpuh pada keharibaan-Nya, meminta kebaikan untuk dunia dan akhiratnya. Dan tidak ada yang melebihi kedekatan Allah SWT dengan hamba-Nya di dunia, kecuali mendapatkan hambanya bersimpuh dalam tajahud, kemudian Allah SWT memenuhi permintaan untuk kebaikannya di dunia dan akhirat. Bersujud dalam tahajud adalah kecintaan bersambut dan tanpa bertepuk sebelah tangan!

Kemudian para mujahid menghabiskan malamnya untuk qiyâman. Jika sujud adalah menempelkan kening, maka qiyâman adalah menapakkan kaki. Meski kedua kalimat yang disebut bermakna satu yaitu sholat malam (qiyâm al-laîl atau al-tahajjud), tetapi penekanan kalimat (diksi) yang dimaksud berbeda. Sujud adalah gambaran kedekatan dan kerendahan, sedangkan qiyam (berdiri) adalah gambaran keteguhan dan ketinggian. Semakin seseorang dekat dengan Allah, maka ia akan semakin teguh mengarungi dunia. Semakin seseorang merendah diharibaan Allah maka semakin tinggilah derajatnya.

  • Doa Para Mujahid (ayat 65 dan 74)

Doa para ‘Ibâd Al-Rahmân disebutkan dengan sangat jelas dalam ayat ke 65 dan 74. Untuk dirinya sendiri, ia berdoa agar dijauhkan dari siksa neraka yang abadi. Mereka berdoa, “Ya Allah jauhkanlah dari kami siksa jahanam, sungguh adzab jahanam itu abadi” (QS. Al-Furqan, [25]:65). Dalam beberapa ayat berikutnya mereka berdoa, “Ya Allah, karuniakanlah kami pasangan dan anak-anak penyejuk hati dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang betaqwa” (QS. Al-Furqan, [25]:74).

Doa Pertama, adalah ciri utama para mujahid dakwah, yaitu mereka bertindak atas dasar keimanan mutlak pada Allah. Ungkapan “Yaa Allah” menunjukkan dengan sangat jelas bahwa kepasrahan total (al-Islâm) diserahkan kepada Dzat Al-Shamad (tempat bergantung). Ciri kedua tersirat dalam doa mereka, “jauhkanlah kami dari siksa jahanam”. Ungkapan ini mengindikasikan bahwa para ‘Ibâd Al-Rahmân adalah mereka yang meyakini adanya konsekwensi puncak dari setiap perbuatan. Konsekwensi puncak itu hanya terdapat di alam akhirat yang mereka yakini benar-benar ada. Ciri ketiga tersirat dari ungkapan “sungguh adzab jahannam itu kekal”. Ungkapan ini mengindikasikan bahwa para mujahid bukanlah mereka para penganut relativisme, yang merelatifkan seluruh pengetahuan manusia. Bahkan sebelum mereka benar-benar mengalami alam akhirat (haqq al-yakîn), mereka begitu yakin bahwa siksa jahanam adalah abadi berdasarkan ilmu pengetahuan mereka (‘ilm al-yaqîn) yang bersumber pada Quran dan Sunnah.

Kedua ciri dari doa pertama ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa para mujahid adalah lawan sejati para penganut materialism (al-mujrimûn) yang menolak secara diametral adanya Tuhan dan Hari Pembalasan.

Doa kedua, adalah ciri pemimpin dakwah, yaitu mereka memulai pergerakan dakwah dan jihadnya dari lingkarang paling terdekat, yaitu istri dan keturunannya. Mereka meminta kepada Allah agar lahir dari garis keturunannya para pelanjut dan pewaris dakwah. Menurut Ikrimah, dalam doa ini, mereka para ‘Ibâd Al-Rahmân, tidak meminta kesejahteraan dan keelokan fisik, tapi meminta ketaatan. Bahkan Hasan Al-Bashri menambahkan, bahwa mereka tidak melihat dari sikap dan perilaku keluarganya kecuali perwujudan dari ketaatan terhadap Allah dan rasul-Nya. (Lihat Ibnu Katsir, 6/132).

Terdapat banyak ayat yang menunjukkan keterkaitan antara kesuksesan jihad dengan beresnya rumah tangga. Pembaca bisa membuka Surat Al-Ahzâb. Sebuah surat yang diturunkan berkenaan dengan kemenangan besar muslimin melawan pasukan sekutu Yahudi, Arab Badui, Kafir Quraisy serta orang-orang munafiq. Namun di awal pembukaan surat, setelah mengingatkan Nabi agar jangan mengikuti keinginan orang-orang kafir dan munafiq, disusul dengan pentingnya mengikuti ajaran wahyu serta tawakkal (QS. Al-Ahzâb, [33]: 1-3), kemudian dengan secara mengejutkan ayat selanjutnya berbicara tentang hukum anak angkat, hukum mendzihar perempuan, kuatnya ikatan nasab saudara yang seagama meski persaudaraan atas nama Islam (ukhuwwah al-Islâmiyyah) tetap penting (QS. Al-Ahzâb, [33]: 4-6). Setelah ayat-ayat hukum dan keterikatan para nabi pada mitsâq (perjanjian dan tanggung jawab risalah) yang sama dari Allah (QS. Al-Ahzab, [33]: 7-8), barulah kemudian Allah mengisahkan bagaimana heroiknya suasana perang Al-Ahzâb (QS. Al-Ahzab, [33]: 10-20). Dan begitu seterusnya.

Surat Al-Ahzâb, doa dalam Surat Al-Furqan di atas, serta ayat-ayat lainnya cukup menjelaskan kepada kita betapa pentingnya memperkuat lingkaran terdekat (keluarga) dalam proses dan perjalanan berat para mujahid. Dan karena beratnya ini, para mujahid diwajibkan untuk meminta agar istri dan anak-anaknya adalah bagian terdekat dalam tugas penting dakwah, para penyejuk hati di tengah deraan dan ujian dakwah!

Selain itu, dalam doa yang terdapat pada Surat Al-Furqân [25]:74 di atas para mujahid meminta sesuatu yang besar namun realistis. Tidak tanggung-tanggung, para mujahid meminta posisi tertinggi dalam pandangan Allah SWT, yaitu, “jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang betaqwa”. Pemimpin orang-orang yang bertaqwa adalah sebuah jabatan termulia dalam pandangan Allah, sebab orang-orang bertaqwa akan memilih pemimpin yang bertaqwa pula bahkan yang ketaqwaannya melebihi ketaqwaan orang lain.

  • Lâ Yad’ûna Ma’a Allâh Ilâhan ‘Âkhor (ayat 68)

Dalam sifat yang kelima ini, ciri para Mujahid adalah mereka yang tidak terlibat dalam bosa besar. Salah satu dosa yang tergolong Al-Kabâir adalah dosa syirik, sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari Ibnu Mas’ud ketika Rasulullah ditanya mengenai dosa besar. Beliau menjawab, “Jika engkau menjadikan tandingan (nidan) bagi Allah padahal Dia adalah penciptamu, kemudian membunuh anakmu karena takut ia akan memakan hartamu, kemudian berzina dengan istri tetanggamu” (HR. Imam Nasai).

  • Faqîhan (ayat 68, 70, dan 72)

Dari ciri kelima, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa para mujahid adalah mereka yang faqih terhadap syariat. Faqih terhadap syariat adalah menguasai sekaligus menjadi pelaku syariat itu sendiri. Merka faham betul bagaimana batasan-batasan syariat berkaitan dengan aqidah, ibadah, mu’amalah, dan jinayah yang akan dijelaskan dari karakteristik social para mujahid.

Bersambung…..

*) Penulis adalah Pengajar Pesantren Persis 19 Bentar Garut