Tag

, , , , , ,

Sepenggal Kisah dalam Surat Thâ-hâ

Oleh: Yudi Wahyudin

فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَى

Lalu para penyihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata, “Kami beriman kepada Tuhan Harun dan Musa.”

(QS. Thâ-hâ, [20]:70)

Setelah kalah berargumentasi dengan mukjizat Musa ‘alaihissalâm, Fir’aun tetap bersikukuh, tidak mau mengaku kalah. Allah berfirman, “Sungguh Kami telah memperlihatkan kepada Fir’aun seluruh tanda-tanda kekuasaan Kami seluruhnya, maka kemudian ia mendustakan serta menolaknya” (QS. Thâ-hâ, [20]:56).

Kemudian ia meningkatkan perlawanan pada Musa ‘alaihissalâm dengan menggunakan kekerasan. Namun bagaimana Fir’aun harus memulai? Apakah ada alasan sah baginya untuk melawan Musa secara fisik? Pantaskah seorang raja yang mengaku ‘tuhan’ beradu tanding dengan seorang sahaya dari Israil yang bernama Musa? Bukankah Musa tidak mengganggunya secara fisik? Bukankah Musa sekedar mengajaknya bicara dari hati ke hati tentang keimanan? Meminta kepada Fir’aun agar ia segera menyerahkan Bani Israil ke pangkuan Musa agar penderitaan mereka berakhir?

Namun syahwat tetap harus terwujud. Dengan atau tanpa alasan, ia harus menghancurkan Musa. Kemudian, Fir’aun menuduh Musa dengan sebuah tuduhan tak berdasar, sebuah fitnah besar yang dituduhkan pada sang Nabi. Fir’aun mendesak Musa dengan gaya bertanya, seolah tidak tahu bahwa Musa yang ada di hadapannya adalah utusan Allah, “Apakah kau datang kepada kami untuk mengusir kami dengan sihirmu wahai Musa?!” (QS. Thâ-hâ, [20]:57). Belum sempat Musa menjawab—sebab memang dari awal Fir’aun tidak sedang bertanya tapi sedang membangun alibi—Firaun secara sepihak memutuskan, “Maka sungguh kami akan mendatangkan juga kepadamu sebuah sihir yang semisil. Dan buatlah sebuah janji antara kita di hari tertentu yang masing-masing dari kita tidak akan mungkin menyalahinya” (QS. Thâ-hâ, [20]:58).

Namun Musa tidak gentar dengan ancaman. Ia begitu teguh, begitu yakin, bahwa ia tidak sendirian. Keyakinan yang dia miliki terbit dari doa lirihnya kepada Allah SWT penuh dengan keyakinan, “Ya Allah! Lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, hilangkanlah kelu dari lisanku agar mereka memahami ucapanku. Dan angkatlah bagiku rekan seperjuangan dari keluargaku. (Yaitu) Harun saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku serta jadikanlah dia sekutu dalam urusanku. Supaya kami banyak bertasbih pada-Mu dan banyak berdzikir pada-Mu. Sesungguhnya Engkau Mahamelihat (keadaan) kami,” (QS. Thâ-hâ, [20]:25-35).

Musa pun menjawab ancaman ini seraya berkata, “Tempat dan waktu janji (yang) kalian (inginkan) ini yaitu pada hari raya dan agar dikumpulkan manusia pada waktu siang.” (QS. Thâ-hâ, [20]:59). Musa adalah seorang Nabi, yang menjelaskan arti iman bukan mencari aman. Membawa bukti jelas, bukan strategi puas. Risalah yang dibawa Musa tidak perlu disembunyikan, tidak perlu di bawa pada gerakan bawah tanah, dan bahkan tidak perlu menggunakan taqiyyah seperti syi’ah sama sekali. Agar hak dan bathil dapat jelas dibedakan, Musa cukup membuat tiga syarat: 1) hari raya, 2) manusia harus berkumpul, dan 3) di waktu siang. Dengan tiga syarat itu, kebohongan yang diada-adakan Fir’aun tentang fitnah sihir pada Musa, dapat terlihat di hadapan banyak orang yang berkumpul di hari raya pada waktu siang jelata. Hingga nampaklah nanti, bahwa apa yang dibawa Musa bukanlah sihir buatan manusia, namun ia adalah mukjizat yang diberikan Allah di Lembah Thu-wa (Lihat QS. Thâ-hâ, [20]:12).

Setelah sepakat, Fir’aun kemudian mengumpulkan para penyihir berbakat dengan kemampuan memadai. (Lihat QS. Yunus, [10]:79). Namun para tukang sihir tetaplah tukang sihir. Mereka akan sedia bekerja jika memang ada upahnya. Sampai sejauh bumi ini tercipta, tidak pernah dihikayatkan para penyihir yang bekerja secara ideologis, tanpa pamrih. Dan pada titik inilah letak kehinaannya, yaitu para tukang sihir membuat praktik syirik hanya gara-gara persoalan perut dan kepentingan pragmatis (baca: ujung-ujungnya duit).

Mentalitas pragmatis para tukang sihir ini diabadikan dalam Al-Quran. Mereka bertanya pada Fir’aun sebelum siap sedia membantu untuk mewujudkan syahwatnya itu. “Apakah jika kami menang, kami akan mendapat upah?,” Firaun menjawab, “Betul (kalian akan dapat upah), dan bahkan kalian akan menjadi orang terdekatku jika menang” (QS. Al-Syu’arâ, [26]:41-42). Maka dengan segenap hati, para penyihir ini pun siap membantu mewujudkan keinginan Fir’aun. Sebuah kesempatan langka dan sangat berharga. Sebab, semakin dekat dengan raja, semakin tinggilah kedudukan ilmu sihirnya.

Hingga pada saatnya tiba, Musa mengambil tempat pertama dalam bicara. Ia pun berkata kepada para peyihir, “Calakalah kalian! Janganlah kalian mengada-ada kepada Allah suatu kebohongan. Maka Allah akan menimpakan kepada kalian adzab-Nya. Sungguh rugi orang yang mengada-ada” (QS. Thâ-hâ, [20]:61).

Setiap profesi memiliki kode etik dan bahasa budaya. Para penyihir profesional itu (hirinalîmin) mampu membedakan mana yang termasuk sihir dan mana yang tidak termasuk sihir. Oleh sebab itu, ketika Musa menginisiasi pembicaraan dengan ungkapan dan gaya seperti di atas, ‘Janganlah kalian mengada-ada kepada Allah suatu kebohongan,’ nampaklah kepada mereka bahwa apa yang Musa ungkapkan bukanlah gaya dan budaya sihir, bahkan Musa berada di luar kode etik sihir itu sendiri (out of the magic box). Gaya bicara Musa yang berada di luar kebiasaan ilmu sihir telah menimbulkan syak dan keraguan di kalangan mereka. “Apakah Fir’aun hendak mengelabui kita?,” Gaya Musa bicara, bukan gaya sihir. Sebab penyihir sudah terbiasa mengada-ada atas nama tuhan, tapi kenapa Musa—yang dituduh Fir’aun sebagai tukang sihir—justru membenci tradisi sihir itu sendiri? Terlebih, tukang sihir tidak pernah mengancam nyawa orang dengan azab Allah, tukang sihir akan mengancam nyawa dengan ancaman kekuatan sihir yang mereka miliki.

Oleh sebab itu, mereka pun berselisih sambil berbisik satu sama lain. “Maka mereka saling berbantah mengenai urusan (penilaian) mereka (kepada Musa) dan merekapun merahasiakan pembicaraan mereka” (QS. Thâ-hâ, [20]:62).

Setelah Musa tampil seadanya, sebagian yakin bahwa Musa bukanlah tukang sihir, dia adalah nabi. Dan sebagian lainnya yakin, bahwa Musa benar-benar tukang sihir. Namun akhirnya suara terbanyak (demokrasi) memutuskan bahwa Musa dan Harun benar-benar tukang sihir yang memiliki maksud untuk mengusir Fir’aun dan merevolusi Mesir (Lihat QS. Thâ-hâ, [20]:63). Tanpa berfikir panjang, mereka pun segera bersiap siaga, “Kumpulkanlah seluruh trik yang kalian miliki dan berbarislah!,” kata pemimpin mereka. “(Sebab) sungguh siapapun yang menang, dialah yang beruntung.” (QS. Thâ-hâ, [20]:64).

Sesaat sebelum pertarungan hendak di mulai, para penyihir menawarkan tantangan dengan penuh percaya diri, mereka berkata, “apakah engkau yang akan mulai melempar, ataukah kami” (QS. Thâ-hâ, [20]:65). Tapi Musa—atas bimbingan wahyu—cepat memutuskan, “Silahkan, kalian yang pertama kali melemparkan!. Maka tiba-tiba tongkat yang dilemparkan para penyihir itu berubah bentuk dalam ilusi Musa, menjadi ular-ular yang hidup dan siap memangsa. Arena di hari raya itu berubah seketika menjadi lautan ular. (QS. Thâ-hâ, [20]:66).

Meski seorang Nabi, Musa tetaplah manusia. Ia begitu kaget dan terhenyak, melihat hal sama yang pernah ia lihat di Lembah Thu-wa, tatkala tongkatnya sendiri berubah menjadi ular besar yang sangat menakutkan (lihat QS. Thâ-hâ, [20]:20). Jika apa yang diduganya itu benar, maka ular yang sangat banyak ini, pastilah mampu mengalahkan seekor ular dari tongkatnya. “Maka Musa merasa takut dalam dirinya.” (QS. Thâ-hâ, [20]:67). Namun Allah yang Mahatahu rahasia terdalam hati manusia, mengetahui setiap getaran jiwa, keraguan, ketakutan, dan kekhawatiran Musa direspon cepat oleh Allah. “Kami berkata (kepada Musa), janganlah takut! Sebab engkaulah yang lebih mulia” (QS. Thâ-hâ, [20]:68). “Lemparkanlah (tongkat) yang ada di tangan kirimu (agar berubah menjadi ular), niscaya ular itu akan menelan seluruh (ular ilusi) buatan mereka, sebab apa yang mereka buat adalah sekedar tipu daya tukang sihir. Dan para tukang sihir ini tidak akan menang (melawan mukzijat) dengan cara apapun” (QS. Thâ-hâ, [20]:69).

Terbuktilah apa yang diduga para penyihir itu sebelumnya. Dugaan mereka berubah menjadi sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan yang tak terbantahkan. Setelah tongkat Musa itu berubah –menjadi ular asli dan melahap seluruh ular-ular ilusi yang mereka miliki—yakinlah bahwa Musa bukan penyihir. Musa adalah seorang nabi yang membawa mukjizat dari Allah, mukjizat yang pernah mereka kenal dan banyak diceritakan kehebatannya di lingkungan penyihir. Bukti ini melengkapi kekuatan gaya bicara (lahn al-qaul) Nabi yang diungkapkan Musa sesaat sebelum adu tanding ini dimulai (lihat QS. Thâ-hâ, [20]:61). Mereka pun kemudian yakin, cerita Fir’aun tentang kemampuan sihir Musa adalah bohong. Fir’aun telah bohong tentang sihir Musa, sebab dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan bahwa apa yang dibawa Musa bukan sihir, bahkan beribu kali lipat kehebatannya dibanding sihir!

Di hadapan kekuatan yang Mahahebat dan Mahadahsyat ini, di hadapan kekuatan yang dikisahkan sebatas legenda pada waktu sebelumnya, namun saat ini mereka benar-benar menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Para penyihir itu tidak memiliki pilihan lain, selain mengakui kehebatan mukjizat dan tunduk atasnya. “Maka mereka menjatuhkan tubuh mereka dalam keadaan sujud (kepada Allah). Mereka pun berkata, kami beriman kepada Tuhan Harun dan Musa.” (QS. Thâ-hâ, [20]:70).

Fir’aun geram sekaligus malu. Geram karena syahwatnya untuk merendahkan Musa—seorang berketurunan sahaya Israil—tidak terwujud, padahal ia adalah raja yang selalu berkuasa mewujudkan apapun keinginannya. Malu, sebab ketundukan para penyihir kepada Musa dilihat ribuan orang yang menyaksikan adu tanding. Akhirnya, isu yang dihembuskan Fir’aun tentang kekerdilan Musa, fitnah yang dituduhkan kepada Musa sebagai seseorang yang ingin merebut kekuasaannya, kebohongan yang dinisbahkan kepada Musa sebagai pengguna sihir untuk mewujudkan tujuan-tujuannya itu, tidak terbukti sama sekali.

Meski geram, Fir’aun masih berkilah dan mencari alibi, “Kenapa kalian beriman kepada Musa sebelum aku perintahkan?.” Bukankah kita masing-masing menyepakati sebuah perjanjian untuk menghancurkan Musa, bukan justru berbalik menjadi pengikut Musa dan berguru pada sihirnya?, “Sesungguhnya (jika demikian berarti) Musa adalah guru sihir kalian” dan kalian telah berkonspirasi melawanku dengan sihir yang kalian miliki? Oleh sebab itu, “Aku akan memotong tangan dan kaki kalian secara bersilang kemudian aku akan menyalibmu di batang pohon kurma. Dan sungguh kalian akan mengetahui siapa diantara kita yang lebih keras dan lama siksaannya” (QS. Thâ-hâ, [20]:71).

Keimanan yang telah bersemai di hati para penyihir itu sudah terlanjur kuat dan tertanam. Ancaman dan paksaan Fir’aun sama sekali tidak berpengaruh. Dengan sangat menggugah, Allah menceritakan isi keyakinan para penyihir “Mereka (para penyihir) berkata, kami tidak akan lagi mementingkan (kepentingan)-mu dari (mengimani) kejelasan yang telah datang kepada kami. Putuskanlah apa yang ingin kamu putuskan, sebab putusanmu itu hanya berlaku di dunia” (QS. Thâ-hâ, [20]:72). “(Oleh sebab itu) kami telah beriman kepada Tuhan kami agar Ia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan (kesalahan karena) apa yang engkau paksakan kepada kami (untuk beradu tanding) sihir. Dan apa yang ada pada Allah lebih baik dan lebih kekal” (QS. Thâ-hâ, [20]:73).

Akhirnya, mereka para penyihir diputuskan untuk dibunuh dengan cara yang telah Fir’aun sebutkan. Oleh sebab itu, Ibnu Abbas mengatakan, “Di waktu pagi, mereka adalah para penyihir namun di waktu sore, mereka termasuk para syuhada.” (Lihat Ibnu Katsir, [1999]: 5/305). Jika Allah telah memutuskan, betapa cepatnya hidayah itu hinggap dalam hati. Pagi Terlaknat, sore Selamat. Wallahu’alam