Tag

, , , , ,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Dan adapun orang yang takut pada maqam Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu, maka sesungguhnya surga adalah tempat kembalinya (QS. Al-Nâzi’ât, [79]:40-41).

Orang yang tha’at bukanlah orang yang tidak senang terhadap keindahan dunia. Sebab Allah tidak akan memuji laki-laki yang menghindari perempuan karena laki-laki itu tidak suka perempuan. Orang yang tha’at, bukanlah orang yang menghindari dunia karena tidak berdaya. Sebab Allah tidak akan memuji seseorang yang terpaksa sederhana sebab ia termasuk orang yang papa.

Laki-laki semacam ini, adalah makhluk hina. Andai laki-laki tipe di atas itu suka perempuan, tentulah dia akan bergelimang dosa dengan mereka, sebagaimana para gay mencontohkannya. Orang papa di atas, adalah orang-orang rakus. Andai makhluk papa itu diberi harta, ia akan akan lebih sombong daripada hartawan, sebab di dadanya ada ambisi membara, iri dengki dan hasud.

Ke-thâ’at-an manusia adalah barang berharga. Lebih berharga daripada yang dimiliki malaikat, sebab mereka diciptakan tanpa hawa nafsu. Sedangkan manusia tercipta dengan hawa nafsu.

Apa yang membuat Allah memuji manusia thâ’at? Mereka takut kepada Allah untuk menjamah maksiat, walau hati bergerak dan berbisik untuk mendekatinya. Seperti Yusuf ‘alahissalâm yang menginginkan Julaiha dan begitupun sebaliknya Julaiha. Namun Yusuf ‘alahissalâm takut kepada Allah, takut bermaksiat dalam Maqâma Rabbihi. Maqam Tuhannya di dunia dan Maqam Tuhannya di akhirat.

Apa yang membuat Allah memuji manusia thâ’at? Mereka menahan hawa diri dari hawa nafsu. Semua orang yang sanggup bertahajud, menahan diri dari tidur nyenyak. Semua orang yang berzakat, menahan diri dari tamak. Semua orang yang ingin di-jilid (dicambuk) karena berzina, menahan diri dari rasa sakit dan malu. Semua orang yang ingin di-qishâsh karena telah membunuh, menahan diri dari ingin hidup lebih lama.

Dan di antara manusia-manusia thâ’at itu, Rasulullah kemudian memilih siapa diantara mereka yang lebih menakjubkan ke-thâ’at-annya. Lalu siapakah mereka? Rasulullah Saw., bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ أَعْجَبُ الْخَلْقِ إِيمَانًا؟قَالُوا: الْمَلائِكَةُ , قَالَ:وَكَيْفَ لا يُؤْمِنُ الْمَلائِكَةُ وَهُمْ يُعَايِنُونَ الأَمْرَ؟قَالُوا: فَالنَّبِيُّونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ , قَالَ:كَيْفَ لا يُؤْمِنُ النَّبِيُّونَ , وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ؟ قَالُوا: فَأَصْحَابُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ, قَالَ:كَيْفَ لا يُؤْمِنُ أَصْحَابِي وَهُمْ يَرَوْنَ مَا يَرَوْنَ؟ وَلَكِنَّ أَعْجَبَ النَّاسِ إِيمَانًا, قَوْمٌ يَجِيئُونَ مِنْ بَعْدِي , يُؤْمِنُونَ بِي وَلَمْ يَرَوْنِي , وَيُصَدِّقُونِي وَلَمْ يَرَوْنِي, أُولَئِكَ إِخْوَانِي (رواه الحاكم و الطبراني ولفظ له)

“Wahai manusia, siapakah orang yang keimanannya menakjubkan?” Para sahabat menjawab, “Imannya malaikat.” Rasulullah, “Bagaimana mereka tidak beriman, sedangkan mereka menyaksikan (berbagai) perkara”. Kemudian para sahabat berkata, “Jika demikian para Nabi wahai Rasulullah.” Rasulullah menjawab, “Bagaimana mereka tidak beriman, sedangkan wahyu turun kepada mereka dari langit.” Para sahabat menjawab lagi, “Kalau demikian para sahabatmu wahai Rasulullah.” Rasulullah menyanggah, “Bagaimana para sahabat tidak beriman, karena mereka menyaksikan apa yang tidak disaksikan orang-orang ini? Akan tetapi orang yang keimanannya menakjubkan itu adalah kaum yang datang setelahku. Mereka iman kepadaku meski mereka tidak melihatku. Mereka membenarkanku meski mereka tidak melihatku. Merekalah saudara-saudaraku (HR. Imam Hakim dan Thabrani, sedangkan lafadz hadits di atas adalah yang dikeluarkan Thabrani).

Jika kita hari ini, di tengah bergelimangannya kelezatan dunia, melebihi hiasan yang pernah terjadi di masa manapun. Jika kita hari ini, di tengah aurat wanita yang begitu terbuka. Jika kita hari ini, di tengah godaan dan tipu muslihat yang begitu kreatif dan imaginatif. Namun kita masih bisa thâ’at karena takut pada Allah dan menahan diri dari hawa nafsu, maka keimanan kita adalah keimanan yang menakjubkan Rasulullah dan para sahabatnya.

Khâfa maqâma Rabbihi adalah takut yang diwajibkan. Khâfa maqâma Rabbihi adalah takut yang terpuji. Sebab ketakutan tunggal pada Allah saja akan menciptakan daya dorong dan kekuatan yang tidak terhingga. Sebuah ketakutan yang akan memicu keberanian dan mengikis al-jubnah (sifat pengecut) dalam diri kita.

Sebab orang yang takut karena iman mengerti betul, bahwa Allah lah yang lebih berhak untuk ditakuti!

…فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

maka Allah lebih berhak untuk kalian takuti, jika kalian benar-benar beriman! (QS. Al-Taubah, [9]:13)

Mereka berani untuk mendedahkan kerendahan yang ia lakukan. Ia berani menghancurkan kefasikan dirinya. Ia sanggup mengikis kemunafikan yang mengendap dalam hatinya.

Karena mereka berani melakukannya pada diri mereka sendiri, maka tidak ada alasan untuk mereka sembunyikan pada orang lain. Dengan penuh keteguhan dan keyakinan terhadap Dzat yang ia takuti, lalu mereka pun mengidzharkan keyakinan itu!

Merekalah yang menyampaikan risalah-risalah Allah dan mereka takut kepada Allah dan mereka sama sekali tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah. Dan cukuplah Allah menjadi penolong mereka (QS. Al-Ahzâb, [33]:39)

Ketakutan inilah yang membuat Rasulullah Saw., berani meminang Zainab—mantan istri Zaid bin Hâritsah anak angkatnya—atas perintah Allah. Meski sempat khawatir akan munculnya cacian orang musyrik Mekkah, namun Allah menegur sifat kecut Nabi Sang Teladan (QS. Al-Ahzâb, [30]:38). Ketakutan inilah yang mendorong Musa ‘Alahissalâm untuk tampil gemilang di hadapan musuhnya, Raja Bengis Fir’aun yang pernah membesarkannya (Lihat QS. Thâ-hâ, [20]:45-46 dan QS. Al-Nâzi’ât, [79]:15-25). Rasa takut inilah yang mendorong Zakaria ‘Alahissalâm tidak lelah berdoa hingga lanjut usia agar dianugerahi keturunan shalih yang akan melanjutkan estafeta dakwahnya hingga Allah melahirkan—dari keturunannya—Nabi Yahya ‘Alahissalâm yang memiliki keshalihan sejak kecil (QS. Maryam, [19]:5). Ketakutan ini pula yang mendorong Maryam berani mengandung Isa ‘Alahissalâm meski harus menanggung rasa sakit, tuduhan dan beragam fitnah dari kaumnnya (QS. Maryam, [19]:16-40). Ketakutan ini pula yang mendorong Ibrahim Saw., untuk berani mengoreksi kesalahan ayahnya yang tercinta serta kekesatan rajanya yang durjana (Lihat QS. Maryam, [19]:45 dan QS Al-Anbiyâ, [21]:57-70).

Dan hanya ketakutan inilah yang layak digantikan surga!

Wa Allâhu ‘alamu bi al-shawwâb.