Tag

, , , , ,

Yudi Wahyudin

Kepala Kabilah Daus di Zaman Jahiliyyah, seorang mulia nan terkenal, dihormat dan diutamakan, Al-Thufail bin ‘Amr Al-Dausiy, saat itu ia hendak berthawaf di Kabah. Meminta berkah kepada berhala dan patung!

Meski jauh dari Daus, Thufail memiliki persepsi sama dengan apa yang dinilai oleh Bangsa Quraisy. Dia sama-sama  memiliki penilaian bahwa Muhammad adalah tukang sihir gila, apa yang ia ajarkan adalah kitab sihir dan mitologi. Pengetahuan yang ia miliki diambil dari gossip, isu, dan qîla wa qâla [percenahan, kata orang] orang-orang waktu itu!

Setibanya di Mekah, ia disambut gembira para pemuka Quraisy, “Selamat datang di negeri kami. Perlu anda ketahui, laki-laki yang mengaku Nabi ini telah menghancurkan kepentingan kita, merobek-robek kesempurnaan kita bersama, memecah belah persatuan kita. Kami takut, hal yang sama akan menimpa anda. Oleh sebab itu, jangan pernah kau berbicara dengannya, jangan dengarkan sedikitpun ucapannya. Sebab ia memiliki daya pikat sihir, yang mampu memisah ayah dan anaknya, antara seseorang dengan saudaranya, bahkan memecah kasih antara suami dan istrinya.”

Walhasil, Thufail pun terporvokasi. Dengan kisah-kisah aneh mereka, dengan kisah-kisah menakutkan yang Muhammad telah perbuat. Akhirnya Thufail bergumam, “Aku tidak akan pernah mendekatinya dan aku tidak akan pernah mendengar ucapannya.”

Keesokan harinya, ia pun pergi menuju Ka’bah sesuai dengan maksud semula, meminta berkah kepada Latta dan ‘Uzza. Ia pun menyumbat telinganya dengan kapas karena khawatir ia akan mendengar suara Muhammad, suara yang memiliki daya pikat dan menyihir!

Di sekitar Ka’bah, ia melihat Muhammad sedang shalat dengan  ibadah yang sama sekali berbeda dengan yang Thufail lakukan. “Entahlah,” gumam Tufail. “Melihatnya menenangkanku, ibadahnya menggerakkanku. Hingga tak sadar aku mendekat padanya, sedikit demi sedikit hingga begitu sangat dekat!.”

Seolah-olah Allah menutup suara apapun pada telinga Thufail kecuali apa yang Muhammad bacakan. Ia pun kembali bergumam, “Celakalah kau Thufail…kau adalah lelaki cerdik, penyair, dan tidak ada sesuatu yang buruk pun tersembunyi dariku. Apa yang menghalangimu untuk mendengar yang laki-laki ini katakan..! Jika ia berbicara sesuatu yang baik, terimalah. Dan jika ia berbicara yang buruk, tinggalkanlah.”

Thufail diam sejenak, menunggu Muhammad selesai beribadah kemudian mengikutinya hingga ke depan pintu rumah utusan Allah ini.

“Wahai Muhammad, sungguh kaummu mengatakan ini dan itu tentangmu, hingga begitu sangat menakutkanku. Saking takutnya, aku pun menyumbat telingaku dengan sekepal kapas agar aku tidak mendengar apapun darimu. Kemudian Allah menghalangiku untuk tidak mendengar apapun kecuali suara darimu. Namun aku tersadar apa yang kau ucapkan itu adalah baik. Aku mohon, ucapkan lagi apa yang telah kau katakana tadi…”

Kemudian Rasulullah membacakan surat Al-Ikhlâsh dan Al-Falaq. Dengan penuh keajaiban, Thufail bergumam untuk kesekian kalinya, “Demi Allah, aku tidak pernah mendengar kata-kata yang lebih baik dari perkataannya. Aku pun tidak pernah melihat seseorang yang sebanding dengannya.”

Saat itu pula, sambil meneteskan air mata, Thufail meletakkan tangannya kepada Muhammad dan bersyahadat.

***

Setelah lama ia belajar Islam dari Muhammad yang telah menjadi Nabinya itu, ia pun hendak kembali kepada kaumnya untuk menebar Islam.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki yang ditaati di kaumku. Aku hendak kembali dan mengajak mereka kepada Islam. Mohonkanlah kepada Allah, agar Dia memberiku tanda-tanda kekuasaan-Nya sebagai penolongku untuk mengajak kaumku.”

Kemudian Rasulullah berdoa, “Ya Allah, jadikanlah baginya tanda kekuasaan-Mu, untuk menolong niatnya agar terwujud.”

Sepulangnya ke Daus, Allah menampakkan cahaya yang mengikuti Thufail ke manapun ia pergi. Dengan cahaya itu—wallâhu’alamu—ia mengislamkan ayah, istri, dan anak-anaknya, hingga ia mengajak seluruh kaumnya masuk Islam.

“Aku mengajak kaumku untuk beriman kepada Allah dan membenarkan Rasulullah. Semua kaumku menangguhkan panggilanku, kecuali Abu Hurairah. Ia adalah orang yang paling awal masuk Islam setelah keluargaku,” kenangnya.

Namun ia tidak berputus asa, ia pun kembali ke Mekah untuk menemui Rasulullah dan kali ini ia berangkat bersama Abu Hurairah.

Setibanya di Mekah, Rasulullah bertanya, “Bagaimana kaummu wahai Thufail?” Thufail menjawab, “Kaumku tertutup tirai kekufuran yang hebat. Daus telah dikalahkan kemunafikan dan kefasikan,” jelasnya.

Maka Rasulullah Saw., berdiri, wudhu, dan sholat. Setelah selesai beliau mengangkat tangan ke langit untuk berdoa.

Abu Hurairah berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah mengangkat tangan, aku mengira bahwa Rasulullah berdoa untuk kebinasaan Kaum Daus.”

Ternyata Rasulullah hanya berdoa, “Ya Allah, berikan hidayah kepada Kaum Daus, berikan hidayah kepada Kaum Daus.”

Thufail kembali ke tempatnya, tidak berhenti dakwah hingga waktu yang sangat lama. Ketika Rasulullah Saw., hijrah ke Madinah dan telah melalui perang Badar, Uhud, dan Khandaq, Thufail pun datang ke Madinah menemui Rasulullah Saw., bersama suku Daus dengan membawa sebanyak penghuni 80 rumah orang-orang yang telah beriman.

*) Kisah ini dikutip dari Kitab Shuwar Min Hayât Al-Shahâbah, karya Dr. ‘Abdurrahmân Ra’fat Al-Bâsyâ, hal. 15-20. Dâr Al-Nafâ-is, Beirut [1412/1992].