Tag

, , , , ,

Yudi Wahyudin

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa sholat bukan sekedar kewajiban dengan segudang ancaman, tapi merupakan cara untuk memanusiakan manusia. Hingga diharapkan dengan efek bathiniyyah sholat, menjamin lahirnya masyarakat yang adil, taqwa, terjauh dari perbuatan maksiat dan makar.

Pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang dimaksud ahlun oleh tugas yang disebut dalam Al-Quran Surat Thâ-hâ, 132 ini? Allah berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ

“Perintahkan Ahlimu Sholat!”

Secara sederhana kita dapat menangkap bahwa yang menanggung tugas memerintah adalah khitab ayat, yaitu dhamir anta [أنت] atau anda semua. Sedangkan yang menjadi ssasaran tugas perintah adalah ahluka, yaitu diterjemahkan dengan ‘keluargamu’. Oleh sebab itu kita terjemahkan ayat di atas dengan, “Perintahkanlah keluargamu oleh dirimu untuk sholat.”

Penulis meyakini bahwa ayat ini tidak terbatas pendidikan ayah kepada istri dan anaknya, tapi merupakan dasar-dasar pendidikan secara umum yang mencakup ruang lingkup, metode, dan tujuan pendidikan yang bisa dianalisis ke dalam tiga ranah ilmu secara umum pula, yaitu: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Penulis juga meyakini bahwa ayat ini tidak digunakan sebatas pendidikan keluarga, tapi pendidikan masyarakat pada umumnya hingga diharapkan terlahir manusia yang manusia dalam ruang lingkup pendidikan Rabbani.

Oleh sebab itu, untuk sementara ungkapan ahluka pun memperlihatkan posisinya sebagai ontologi kajian. Sehingga dalam posisi ini, kita telah menemukan ruang lingkup sholat sebagai materi tugas [perintah apa] dan keluarga sebagai sasaran tugas [perintah untuk siapa].

Namun setelah dikumpulkan beragam makna ahlun dan penggunaannya dalam bahasa arab, ternyata ahlun bukan sekedar sasaran tugas sesederhana keluarga, persis seperti ungkapan wa’mur yang cukup dalam menyiratkan asas dasar pendidikan dalam pendidikan ibadah.

Kata Al-Ahlu dalam bahasa arab digunakan untuk makna musytarakah. Ia bermakna Ahlu Al-Rajul, yaitu keluarga lelaki, ‘asyîratun yaitu keluarga, dzû-qurbah yaitu kerabat. Kadang digunakan juga untuk Ahlul Quran yaitu hafadzhatuhu yakni penghafal dan pengamal quran. Terkadang digunakan untuk makna penghuni seperti Ahlu Baitillâh, yaitu sukkânuhu atau penghuni Rumah Allah. Dalam beberapa redaksi, ahlun juga bermakna diri sendiri, yaitu nafsun. Dalam level sosial yang lebih luas, ahlun digunakan untuk makna pemegang, yaitu seperti ungkapan Ahlul Amri atau wulâtul amri, yakni pemegang kebijakan. Dan terkadang digunakan untuk makna pemeluk sesuatu keyakinan, seperti dalam ungkapan Ahlul Islâm yakni pemeluk agama Islam. Di tempat lain, kata ahlun digunakan untuk jenis binatang yang jinak, seperti dalam ungkapan khumurun ahliyyun yakni keledai yang dijinakkan manusia. Dalam Al-Quran, disebutkan ungkapan Huwa Ahlut Taqwâ Wa Ahlul Maghfirah [QS. Al-Muddattsir, 56] yang memiliki makna berhak, yakni berhak mendapat taqwa manusia dan berhak memberi ampunan karena ketaqwaan mereka. Terkahir, ahlun juga digunakan untuk makna mempersunting, yaitu dalam ungkapan Ahalla Al-Rajulu Imra-atan, yakni seorang laki-laki menikahi perempuan.

Jika kita coba analisis, dari makna-makna ahlun di atas kita dapat memasukkannya dalam kelompok-kelompok ruang lingkup sasaran tugas ‘perintah sholat’ secara sistematis seperti di bawah ini:

  1. Diri sendiri
  2. Yang dipersunting, yakni istri.
  3. Keluarga laki-laki, yakni anak-anak.
  4. Asyîrah dan dzû qurbah, yaitu ayah, ibu, saudara, serta kerabat dekat lainnya.
  5. Penghuni rumah lainnya, yaitu yang tidak terkait kekerabatan dan hubungan nasab.
  6. Penghafal dan pengamal Agama, yaitu yang dimaksud adalah peserta didik secara umum.
  7. Pemeluk keyakinan yang sama, yaitu yang dimaksud adalah masyarakat muslim.
  8. Pemegang kebijakan, yakni pemerintah atau pemimpin pada umumnya.
  9. Non muslim yang sudah ‘jinak’ atau muallaf [jinak hatinya], yakni pemeluk-pemeluk Islam baru.
  10. Serta manusia lain yang memiliki hak dakwah dan sampainya keterangan untuk mengetahui perintah sholat dan keindahan kandungannya, baik muslim ataupun non muslim.

Tahapan sistematis di atas tidak bermakna sina qua non [syarat mutlak] atau sebelum yang pertama kita tidak bisa melangkah ke tahap selanjutnya. Karenanya boleh-boleh saja kita ‘memerintah’ sholat kepada muallaf sebelum ‘memerintah’ sholat kepada pemerintah. Adapun tahapan ini ditulis demikian hanya untuk melihat prioritas sasaran ‘perintah’. Oleh sebab itu sebelum kepada istri, ‘perintah’ sholat layaknya diprioritaskan kepada diri sendiri terlebih dahulu, baru kemudian kepada keluarga, kerabat terdekat, dan seterusnya.

Tahapan prioritas dan bukan syarat mutlak [sina qua non] dijelaskan pula secara tegas oleh sebuah hadits shahih, bahwasanya Rasulullah Saw., bersabda,

ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا

Mulailah untuk dirimu dan bersedekahlah dengannya. Jika ada sisa, shadakahkanlah pada keluargamu. Jika masih ada sisa dari keluargamu, sedekahkanlah pada kerabatmu. Dan jika masih ada sisa dari sedekah pada kerabatmu [sedekahkanlah pada yang lainnya], demikian dan seterusnya. [HR. Muslim]

Ungkapan ahlun menyiratkan bahwa tugas pendidikan sholat harus mencakup seluruh sasaran perintah tugas dimulai dari diri sendiri, istri, keluarga, dan seterusnya. Dari tukang cendol hingga presiden. Tentu saja pendidik harus memperhatikan tiap sasaran tugas yang berbeda. Ada beragam cara dan metode yang sesuai dengan sasaran tugasnya. Sebagai contoh, mendidik sholat kepada pemerintah tentu saja memiliki penekanan, gaya, bentuk berbeda dengan mendidik sholat kepada istri dan anak. Insya Allah kita bahasa dalam artikel selanjutnya dalam makna isthabara [super sabar].

Wallahu’alam