Tag

, , , , , , ,

Oleh: Yudi Wahyudin

(1) Segala Puji Bagi Allah yang telah mencipta [khalaqa] langit-langit dan bumi. Dan telah pula menjadikan [ja’ala] beragam kegelapan dan satu cahaya. Kemudian orang-orang kafir membangkang [dengan] menganggap [Allah] sama dengan tuhan mereka.

Kepada siapa lagi pujian itu layak disandingkan? Adakah sesuatu selain Allah yang berhak mendapatkan pujian setinggi-tingginya? Bukankah hanya Allah yang telah menciptakan langit yang tujuh dan bumi kemudian ciptaan-Nya itu disiapkan untuk seluruh kebutuhan manusia? Semua itu Allah ciptakan agar manusia mengecap kesejatian, kebahagiaan abadi. Sebab bukankah kalian manusia-manusia yang membutuhkannya, sedangkan Allah tidak membutuhkan kebahagiaan sebab DIA lah yang akan menganugerahkannya.

Semua yang Allah ciptakan itu adalah sarana dan alat untuk mencapainya. Manusia bukan Tuhan yang Maha Kaya dan Maha Tidak Membutuhkan. Karean itu, manusia harus bersegera mengejar kebahagiaan, mencari jalan menuju-Nya serta menghindari jalan-jalan yang tidak mengarah pada-Nya yang akan berakibat fatal. Mengakibatkan manusia terjauh dan terusir dari kebahagiaan sejati itu!

Tapi culas! Ada saja manusia yang tergiur oleh alat dan sarana itu hingga lupa pada tujuan semula, tidak bersegera dan malas untuk mencapai kebahagiaan sejatinya. Bahkan ironinya, bukan saja malas, bahkan ada diantara mereka yang salah jalan dan tersesat atau bahkan menyesatkan. Menuju jalan kedzaliman, kegelapan, keterpurukan, kesementaraan, hingga terjebak pada kebahagiaan semu. Kebahagiaan dunia yang menipu itu dianggap oleh mereka sebagai kebahagiaan sejati. Dari mereka dan dengan dukungan sang provokator, Iblis laknatullah, manusia melahirkan dan menempuh jalan hidup kegelapan [al-dzulumaat].

Ketika berbicara fasilitas dan sarana [langit dan bumi], Allah menggunakan khalaqa [mencipta] dan ketika berbicara kegelapan [adz-dzulumat] Allah menggunakan lafadz ja’ala [menjadikan]. Khalaqa berarti mengadakannya dari sebelumnya yang tidak ada, sedang ja’ala berarti mengadakan sesuatu dari yang sebelumnya sudah ada.

Oleh sebab itu, Allah berfirman dalam surat An-Nisa, ayat 79 yang berbunyi, “Kebaikan apa saja yang menimpa kepadamu maka itu datang dari Allah. Dan kejelekan apa saja yang menimpamu maka itu datang dari dirimu.” Kesesakan, kesempitan, jalan malang, hingga adzab yang menimpamu nanti adalah gara-gara kamu menempuh jalan kegelapan dan akibat ulah serta permintaan dirimu sendiri yang menganggap langit dan dunia sebagai kebahagiaan sejati. Meski hakikatnya Allah sendiri Yang Mahakuasa mengadakan jalan kegelapan. Allah mengizinkan adanya kegelapan sebab siapa lagi yang berkuasa menciptanya? Adakah sesuatu yang lain yang berkuasa menciptanya?

Allah SWT juga menggunakan lafadz ad-dzulumat jamak dari adz-dzulmu dengan ma’rifat yang berarti bahwa meski kegelapan itu banyak rupanya, berubah bentuk, berliku, serta bervariasi, tetap saja bahwa tujuannya adalah al-kufr (menutup), yaitu kekufuran yang menutup kebahagiaan sejati hingga tidak nampak. Dan yang nampak di mata mereka hanya kebahagiaan semu. Meski jalan kebahagiaan yang satu dan tidak memerlukan pilihan itu (Al-Nur) sudah terang dan jelas, tetap saja mata yang buta itu memilih jalan berliku dan tidak karuan, karena memang begitulah mata yang buta!

Mata yang tertutup dengan sebuah penutup [al-ghisyawah] itulah yang mengakibatkan mereka mencipta pembangkangan, kezaliman demi kezaliman, hingga lahirlah prajurit-prajurit syaithan yang menganggap sama jalan yang diciptakan tuhan mereka, yaitu hawa nafsu, dengan jalan Allah. Akhirnya, sebab kesamaan dan kesetaraan antara keduanya tidak mampu diciptakan, jalan terakhir yang mereka tempuh adalah dengan menegasikan kebahagiaan sejati itu sendiri. Dan menganggap bahwa surga-neraka sebagai imaginasi, opium untuk meninabobokan kebablasan syahwat hewani manusia-manusia pembangkang.

(2) DIA-lah Allah yang telah menciptamu dari tanah kemudian Allah menentukan ajalnya. Dan ajal yang pasti itu ada pada-Nya, kemudian kalian meragukannya.

Lalu layakkah manusia menjadi manusia yang salah pilih? Menjadi manusia dzalim, pembangkang, kafir, dan maksiat kepada-Nya? Sekali-kali tidak! Bukankah kalian berasal dari Adam yang tercipta dari tanah lumpur kemudian Adam melahirkan anak keturunannya hingga sampai pada kalian? Bukankah kalian sebelumnya tidak tahu menahu tentang apapun kemudian Allah yang memberimu ilmu?

Jika Adam yang tidak pernah merasa kecil—sebab Adam langsung dicipta dalam usia baligh dan berakal—masih tetap tasbih kepada Allah dan beristighfar pada-Nya atas dosa kecil yang ia lakukan, lalu kenapa kalian yang mengalami masa kecil, polos, dungu, dan tidak berakal masih saja membusungkan dada di hadapan-Nya? Merasa bahwa dunia adalah segalanya, padahal kalian dan dunia yang kalian tempati memiliki batas (limited).

Bukankah setiap hari kalian menyaksikan ada yang terlahir, dewasa, tua, dan meninggal? Bukankah kalian juga menyaksikan ada manusia-manusia yang usianya tidak sampai dewasa atau bahkan meninggal di saat ia belum lahir ke dunia? Bukankah itu semua cukup menjadi bukti bahwa kalian dan apa yang kalian tempati tidak memiliki sifat tak terbatas (unlimited)?

Namun kenapa kalian masih meragukan? Ragu akan adanya hari setelah hari kematian serta menaruhkan nyawa dan berkorban untuk dunia yang sementara?

(3) Dan Dia-lah Allah yang ada di langit-langit dan ada pula di bumi, Dia mengetahui rahasia dan dhahir kalian serta mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Jika kalian masih meragukan bukti ini, tidaklah kalian layak mendapatkan kebahagiaan sejati itu dengan jalan paksaan. “Beramalah sekehendak kalian, sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Zumar, 40) Jangan mengira bahwa Allah lengah dan lalai terhadap kezaliman yang kalian tempuh, kejahatan yang kalian lakukan secara rahasia atau terang-terangan. Ketahuilah bahwa Allah itu meliputi langit dan bumi. Jika di setiap jengkal langit dan bumi ada malaikat Allah yang bersujud, maka Allah itu Maha Besar dan Maha Kuasa untuk berada di keduanya.

Meski memaksa kalian tidak seharga dengan kebahagiaan sejati, tapi ketahuilah! Bahwa tidak ada sejengkal ruang pun yang membangkan kepada Allah. Semua sujud dan tunduk kepada keinginan dan iradah Allah, baik secara rela atau pun terpaksa. Jika kalian bisa menolak iradah Allah? Sembunyikan apa yang kalian ingin sembunyikan dari Allah jika mampu? Buatlah aturan hidup sendiri, buatlah jalan rizki sendiri, buatlah udara sendiri yang bisa kalian hirup, buatlah air sendiri yang bisa kalian minum, buatlah tanah sendiri yang bisa kalian injak, jika kalian benar-benar merasa tidak tunduk dan berada dalam kuasa Allah!

(4) Tidaklah datang kepada mereka sebagian bukti dari bukti-bukti Tuhan mereka, kecuali mereka berpaling darinya.

Kenyataan bahwa langit-langit dan bumi tercipta tanpa contoh, diciptakan sebagai fasilitas manusia untuk berlomba dalam sebaik-baiknya amal, kenyataan bahwa manusia pembangkang sekalipun tidak bisa menolak dan membangkan ketentuan dan ajal dari Allah, serta kenyataan bahwa manusia tidak bisa mencipta udara, air, tanah, rizki, serta kehidupan dari selain Allah merupakan bukti jelas dan tak tertolak diantara bukti-bukti jelas lainnya yang menunjukkan bahwa hanya Allah yang pantas disembah melalui jalan dan syari’at-Nya, bukti bahwa kezaliman adalah perilaku memalukan dan tidak layak yang dilakukan manusia bejat—yang katanya berakal—padahal dengan potensi sama yang dimiliki manusia-manusia taat.

Tapi aneh alias ajaib, bukti sejelas dan seterang itu masih berani mereka tolak, berpaling darinya, seolah tak bermata, tak bertelinga, dan bahkan tak berhati! Apa gerangan penyakit parah yang mereka tanamkan dalam hati? Apakah penyakit yang mampu mengaburkan kejelasan argumentasi, meredupkan terangnya bukti Al-Nur itu?

(5) Maka sungguh, mereka telah mendustakan kebenaran, ketika kebenaran itu menghampiri mereka. Maka kelak, akan datang kepada mereka berita keputusan tentang apa yang mereka permainkan.

Ternyata jelas, pembangkangan yang mereka teriakkan, bukan karena kebenaran tidak jelas, bukan karena kebenaran tidak pernah datang kepada mereka, bukan karena argumentasi yang kurang cukup, bukan pula karena mereka tidak melihat secara meyakinkan bahwa Allah dan jalan-Nya itu satu-satunya yang benar. Mereka para pembangkang mendustakan kebenaran itu!

Bohong jika para pembangkang tidak mengetahui bukti-bukti yang sudah jelas itu, bohong jika mereka mengaku bahwa kebenaran terhijab dari mereka, dan sebuah kedustaan jika mereka mengaku telah menemukan tuhan selain Allah.

Namun lagi-lagi, memaksa mereka untuk beriman—meski Allah berkuasa mewujudkannya—tidak pantas Allah berikan kepada orang kafir pembangkang yang berani mendustakan kebenaran yang sudah sangat jelas mereka lihat.

Tunggulah, jika saatnya tiba, Allah akan membeberkan apa yang mereka lakukan, menghakimi seadil-adilnya kedustaan yang mereka teriakan, memanggil tuhan-tuhan mereka yang dianggap berkuasa untuk menjadi saksi, apakah yang mereka anggap tuhan-tuhan itu pernah memerintahkan agar mereka menyembahnya seraya menyingkirkan Allah? Jika benar—seperti fir’aun dan rahib yang meminta disembah—maka tuhan-tuhan itupun akan dipersaksikan di hadapan pengikutnya bahwa mereka sendiri tak kuasa menolak azab Allah. Dan jika yang mereka anggap tuhan-tuhan itu tidak pernah memerintah mereka untuk menyekutukan Allah—seperti Nabi ‘Isa bin Maryam—maka para pengikutnya akan mendapat siksaan pedih seraya menyaksikan bahwa sosok manusia, seorang nabi yang dianggap juru penyelamat itu, tidak akan mampu menyingkirkan azab dari mereka!

Begitulah akhir permainan yang mempermainkan kebenaran, terjerembab dalam mainan dunia, jabatan, dan harta kekayaan, berani berdusta tentang kebenaran walau mereka sendiri menyaksikan bahwa kebenaran itu telah benar-benar nyata.

(6) Apakah mereka tidak melihat dengan mata, betapa banyaknya generasi yang Kami binasakan sebelum mereka. [Padahal] Kami telah kuatkan mereka di muka bumi lebih dari yang Kami berikan kalian. Kami pun menurunkan hujan lebat kepada mereka, serta mengalirkan sungai di bawah tempat mereka. Maka Kami binasakan mereka akibat dosa melimpah yang mereka perbuat, lalu kami lahirkan setelah mereka generasi lainnya.

Jika kematian satu orang manusia tidak cukup menjadi nasihat, agar para pembangkang dapat melunakkan hati, maka kebinasaan satu generasi cukup kiranya menjadi bukti yang menusuk hati busuk yang mereka miliki.

Ibrah ini mengisyaratkan, jika satu orang yang miskin dan sisanya kaya, maka cukup kita menyalahkan si miskin karena malas. Tapi jika satu orang kaya dan sisanya miskin, tidak pantas kita salahkan orang-orang miskin dengan alasan malas. Ada isyarat jelas, bahwa kemiskinan diciptakan secara sistemik oleh segelintir orang kaya.

Masih dianggap lumrah, jika para pembangkang masih menolak ajal karena kematian satu orang manusia dengan mengatakan bahwa ia tidak hati-hati, salah pola makan, salah pola tidur, atau karena kurang berolahraga, dsb. Tapi sangat tidak dimengerti, jika menolak adanya ajal—dengan ciri lebih mementingkan dunia dan mendustakan kebenaran—setelah melihat satu dua generasi punah! Terlebih, generasi pembangkang yang punah itu adalah generasi yang secara fisik lebih kuat dari generasi pembangkang hari ini. Mereka dianugerahi sebuah kekuatan yang tidak ada bandingnya dengan generasi saat ini.

Kaum Nuh adalah kaum yang hebat secara politik, peradaban mereka bertahan kurang lebih 12 abad (Peradaban Eropa saat ini—dengan segala kecanggihannya—baru bertahan 6 abad). Kaum ‘Ad adalah kaum yang sangat kuat secara fisik, kaum Tsamud adalah kaum yang kuat secara intelegensia, kaum Luth—selain memiliki kelainan seksual—adalah kaum barbar yang terkenal ditakuti karena penjarahan, perampokan, dan pembunuhan yang mereka lakukan. Begitupun orang-orang Madyan, mereka sangat kuat secara ekonomi. Mereka mampu memonopoli seluruh pasar ekonomi hingga ditakuti oleh Mesir. Menurut ayat di atas, kekuatan-kekuatan yang mereka miliki itu tidak pernah tertandingi dalam sejarah. Belum lagi, mereka dianugerahi iklim tropik di tempat jazirah—hal yang hampir mustahil terjadi hari ini—dan di wilayah sabit subur. Hujan turun lebat, sungai-sungai mengalir, pepohonan rindang, serta bahan konsumsi lebih dari cukup.

Apakah kebinasaan kaum yang kuat dan hebat ini adalah gara-gara ketidakhati-hatian satu dua orang? Karena salah perhitungan satu dua orang? Karena satu dua orang diantara mereka tidak mengatur kesehatan fisik hingga cukup menjadi alasan kebinasaan penuh satu generasi?

Mereka binasa karena pembangkangan massif yang mereka lakukan. Tidak peduli betapa cerdiknya siasat dan strategi yang mereka canangkan, berapa besar kekuatan yang mereka miliki, setinggi apapun kecerdasan yang mereka perlihatkan, begitu hegemoniknya cengkeraman ekonomi yang mereka tebarkan, namun jika mereka membangkang secara massif, tidak ada yang akan ditunggu oleh mereka kecuali kebinasaan.

Allah tidak membinasakan mereka karena dzalim kepada mereka. Allah berfirman, “Tidaklah Tuhanmu membinasakan sebuah penduduk negeri karena kedzaliman, bahkan [tidak mungkin adzab itu hadir] jika penduduk negerinya orang-orang sholeh.” (QS. Hud, 117).

Ayat ini memberikan argumentasi telak. Alam Yarau, apakah mereka tidak melihat? Yarau adalah melihat dengan mata. Seolah-olah ayat ini ingin mengatakan kepada para pembangkang, jika kalian masih meragukan adanya hari setelah hari-hari dunia, lihatlah oleh mata sendiri bahwa kematian seseorang itu nyata dan lihat pula kebinasaan itu ada dan terjadi berulang kali.

Kemanakah mereka pergi? Bagaimana kalian menjelaskan kebinasaan sebuah generasi dengan argumentasi sebab-akibat hukum alam? Bagaimana penjelasan kausalitas tentang tanah-tanah yang diangkat ke atas langit kemudian dibalik sehingga bawah menjadi atas dan atas menjadi bawah seperti yang terjadi pada kaum Luth? Bagaimana menjelaskan banjir bandang secara massif yang memporakporandakan setengah bumi yang bulat yang terjadi pada generasi Nuh? Bukankah ilmuwan mutakhir menemukan bahwa air yang ada di bumi telah cukup, tidak kurang dan tidak lebih? Dari manakah datangnya air lebih di waktu itu? Suara apa gerangan yang membumi hanguskan tanah Tsamud, hingga satu generasi yang sudah cukup lama hidup kemudian hancur dalam beberapa saat?

(7) Walau Kami turunkan kepadamu [Hai Muhammad] sebuah kitab dalam bentuk kertas, kemudian mereka menyentuhnya dengan tangan mereka, pasti orang-orang kafir pembangkang berkata, “Ini bukan apa-apa, melainkan jelas-jelas sihir.”

Tapi pembangkang tetap pembangkang. Bukti logis dan rasional sanggup mereka tolak, begitu pula bukti-bukti empiris. Seandainya Nabi Muhammad diberi wahyu berupa kitab yang terbuat dari kertas, berisi wahyu yang sama yang menjelaskan tata hidup dan berkehidupan tetap saja bukti empirik itu akan mereka tolak.

Stigma sihir yang dilekatkan pada Nabi Muhammad bukan karena Nabi Muhammad dianggap kerasukan jin—seperti yang mereka tuduhkan saat Rasulullah menggigil di saat menerima wahyu. Banyak para ponggawa musyrik Mekah yang mempelajari sihir, memperdalamnya hingga tidak asing lagi bagi mereka dunia perdukunan, tenun, dan sihir-sihir lainnya. Saking ahlinya, muncul di kalangan mereka orang-orang—yang katanya–mampu berkomunikasi dengan dunia jin, menuliskan lembaran-lembaran syair dari jin hingga disebut kemudian dengan istilah Syi’arul Jaann (Syair-syair Jin). Mereka tahu betul bahwa proses dan hasil yang diterima oleh Rasulullah berbeda secara diametral dengan yang dialami oleh para penyihir. Dalam Surah Al-Mudatsir, mentalitas ini diabadikan secara sangat baik. Allah berfirman,

“Kemudian dia berfikir dan mengira-ngira. Celakalah dia, bagaimana dia [menetapkan] dengan kiraan? Kemudian celakalah dia, bagaimana dia [menetapkan] dengan kiraan? Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu ia bermuka masam dan merengut. Kemudian dia berpaling [dari kebenaran] dan menyombongkan diri. Lalu ia menyimpulkan, ‘Sesungguhnya Al-Quran ini adalah benar-benar sihir yang berpengaruh. Tidaklah Quran ini kecuali perkataan manusia.” (QS. Al-Muddattsir, 18-25).

Ayat ini mengisahkan Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi. Dia adalah ahli bahasa, syair jin, dan syair arab. Dikisahkan dalam riwayat Ibnu ‘Abbas, bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Bakar bin Abi Kuhafah tentang Al-Quran. Ketika Abu Bakar membacakan satu dua ayat dari Al-Quran, ia pun bersegera pergi menuju kaum Quraisya dan berkata, “Menakjubkan apa yang disampaikan Abu Kabasah [yakni hinaan Quraisy bagi Rasulullah] ini. Demi Allah, Quran ini bukan sya’ir, bukan sihir, dan bukan pula ocehan orang gila. Sungguh ucapannya adalah ucapan Allah.” Seketika itu pula para pembesar kafir Quraisy mengadakan musyawarah mengenai apa yang dilontarkan oleh Walid bin Al-Mughirah La’natullah ini. Mereka menyimpulkan, “Demi Allah, jika Walid sudah begini, maka begitu pula seluruh Quraisy.” Maksudnya adalah jika ucapan Walid bin Al-Mughirah ini didengar oleh orang-orang Quraisy, maka seluruh orang akan percaya padanya sebab ia adalah ahli di bidangnya. Maka ketika kabar ini sampai ke telinga Abu Jahal bin Hisyam, ia pun berkata, “Demi Allah, saya yang akan menghentikannya.” Maka ia pun pergi menemui Walid bin Al-Mughirah kemudian berkata, “Apakah kamu percaya bahwa seluruh orang Quraisy telah mengumpulkan uang?” Walid menjawab, “[Untuk apa], bukankah akulah orang yang lebih banyak harta dan anak dari mereka?” Abu Jahal menjawab, “Mereka telah berbincang mengenaimu, bahwa engkau menghampiri Abu Bakar bin Abi Kuhafah untuk mendapatkan makanan darinya, [hingga kamu memuji-muji yang diucapkan Abu Bakar].” Maka Walid menjawab, “Apakah engkau sudah berbicara dengan keluargaku? Sekali-kali tidak, demi Allah, aku tidak mendekati Abu Bakar, tidak pula Umar, atau bahkan Abi Kabasah [Yakni Rasulullah]. Tidaklah ucapannya itu kecuali sihir yang sangat berpengaruh. Kemudian Alah menurunkan surat Al-Muddatsir dengan ayat  di atas. (HR. Imam Hakim dan Imam Al-Baihaqi. Imam Hakim berkata, “Ini adalah hadits yang sanadnya shahih berdasarkan syarat Imam Bukhari, tapi beliau tidak mengeluarkannya.”)

Peristiwa ini mengatakan kepada kita, bahwa ada tipe manusia—yaitu pembangkang—yang tidak mau menerima setelah jelas dan mengerti, setelah cukup bukti, bahkan bukti-bukti empirik sekalipun.