Tag

, , , , , ,

Yudi Wahyudin

Ketika Nabi Ibrahim Saw., hendak meninggalkan keluarganya di tanah tandus Al-Muharram, beliau memohon kepada Allah agar keluarganya dijadikan barisan penegak sholat, memperhatikan waktunya, dan menyempurnakan syarat serta rukunnya. Barulah setelah permohonan sholat ini beliau ajukan pada prioritas pertama, beliau pun mengajukan permohonan selanjutnya, yaitu memohon agar masyarakat sekitar menyayangi mereka dan supaya mereka diberi rizki buah-buahan. Ketiga bentuk permohonan ini disiapkan oleh Nabi Ibrahim agar keluarganya termasuk diantara orang-orang bersyukur. (QS. Ibrahim, 37)

Menegakkan sholat, menjalin hubungan baik dengan masyarakat sekitar, memiliki kesejahteraan rizki rumah tangga, serta menjadi keluarga yang penuh rasa syukur adalah ciri kesempurnaan permintaan. Namun pertanyaannya, kenapa sholat terlebih dahulu? Bukankah kebahagiaan serta suka cita dirunut terbalik oleh orang pada umumnya?

Perintah Sholat dalam Ranah Ilmu

Dalam surat Thâ-hâ, Allah SWT berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Perintahkanlah keluargamu sholat dan teguhkanlah hatimu terhadapnya. Kami tidak meminta engkau untuk member rizki, [sebab] Kamilah yang memberikannya. Dan akhir yang baik ada para ketaqwaan [QS. Thâ-hâ, 132]

Jika kita membuka kamus arab, kita akan menemukan makna leksikal dari lafadz Wa’mur yang secara sederhana kita gunakan untuk menerjemahkan ayat di atas dengan, ‘perintahkanlah.’ Makna leksikal [mu’jam] yang dimaksud adalah, perintah [أمَرَ], ancaman [أمرٌ], sejahtera [مَأْمُوْرَةٌ], musyawarah atau muktamar [المؤتمَر], teguh pendirian [المؤتمِر], bertekad kuat [أْتَمِرَ], satu kewajiban [أمرٌ], mencontohkan [اِئْتَمَرَ], konsultasi [استأمر], kecenderungan [أَمّارة], satu orang [إِمرُؤ], pemimpin [الأمير], menjadi sesuatu [أَمُرَ], banyak dan sempurna [أمِرٌ], dan berkah [أمَرَة].

Setelah penulis coba hubungkan dengan persoalan sholat, maka makna-makna leksikal di atas dapat dikelompokkan pada tiga ranah ilmu, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Yang dapat dimasukkan pada ranah ontologis [apa/ruangl lingkup] adalah: satu orang, perintah, satu kewajiban, dan ancaman. Dan yang termasuk pada bagan epistemologis [bagaimana/metode] adalah: bertekad kuat,  teguh pendirian, mencontohkan, konsultasi, dan musyawarah. Sedangkan makna leksikal yang termasuk bagan aksiologis [tujuan/hikmah] adalah: menjadi sesuatu, kecenderungan, pemimpin, sempurna, berkah, dan sejahtera.

Makna amara jika ditinjau dari bagan ontologi [apa/ruang lingkup] dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Pertama, satu orang. Sholat adalah ibadah individual [fardiyyah] meski nanti pada praktiknya dilakukan secara berjamaah.
  2. Kedua, perintah. Baik yang wajib ataupun sunnah, ibadah sholat bersifat taklifi, yaitu ibadah yang secara khusus diperintah, diberikan contohnya, serta dengan tatacara yang tidak bisa sembarangan, bahkan termasuk dosa apabila melakukan sholat yang tidak ada perintahnya. 
  3. Ketiga, satu kewajiban. Al-Ashlu fil Amri Lil Wujûb, yaitu asal perintah adalah kewajiban, illa mâ dalla ad-dalîlu ‘alâ khilâfihi, kecuali ada dalil yang menunjukkan ketidakwajibannya. Oleh sebab itu, pada dasarnya perintah sholat adalah wajib, kecuali ada dalil yang menunjukkan bahwa sholat tersebut tidak wajib, seperti sholat sunnat rawâtib, dhuha, tahajjud, dsb. 
  4. Keempat, ancaman. Oleh sebab asalnya wajib, maka orang yang meninggalkan sholat diberikan ancaman. Sebab definisi wajib adalah, mâ yutsâbu ‘alâ fi’lihi wa yu’âqabu ‘ala tarkihi, atau diberi pahala jika dilakukan dan diberi siksa jika ditinggalkan.

Makna amara jika ditinjau dari aspek epistemologi [bagaimana/metode] dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Pertama,  bertekad kuat. Menegakkan sholat bukan perkara mudah. Jika mudah Allah SWT tidak akan berfirman, “Perintahkanlah keluargamu sholat dan teguhkanlah hatimu terhadapnya.” [QS. Thâ-hâ, 132]. Jika mudah Nabi Ibrahim tidak akan memberikan prioritas pertama dalam permohonannya [Lihat QS. Ibrahim, 37]. Oleh sebab itu, dengan tekad kuatlah tugas berat ini bisa terlampaui.
  2. Kedua, teguh pendirian. Tekad yang kuat seolah-olah tidak cukup untuk menghasilkan keluarga-keluarga penegak sholat. Banyak yang bertekad kuat [bidâyah al-mujahid] namun melemah di tengah perjalanan [wanihâyah al-kaslân]. Satu kali dua kali, kita masih bertekad kuat mendidik anak dan istri untuk sholat, namun tidak jarang—karena anak dan istri susah untuk dididik—kepala rumah tangga menjadi lemah mentalnya. Apalagi jika berkaitan dengan urusan pelik ekonomi rumah, kepala keluarga seringkali kelihangan prioritas untuk mendidik sholat sebab kurangnya teguh pendirian. Oleh sebab itu, dalam ayat di atas, setelah Allah memberi perintah pendidikan sholat, Allah kemudian memerintahkan kita untuk teguh pendirian [washthabir]. Lihat QS. Tha-ha, ayat 132 di atas. 
  3. Ketiga, mencontohkan. Selain taklifi, sholat bersifat ibadah tauqî’î atau perwujudan. Karena sifatnya harus mewujud, maka tidak cukup diberikan pendidikan teoretis. Harus ada contoh dan praktik agar pendidikan sholat bersifat efektif. Orang tua yang selalu memerintah sholat pada anak-anaknya sedangkan mereka jarang melihat orang tuanya sholat, dapat dipastikan bahwa perintah ini tidak akan efektif. Bahkan tidak jarang menjadi bahan guyonan anak-anak. 
  4. Keempat, konsultasi. Karena mendidik sholat termasuk perkara sulit, jika perlu kepala keluarga harus sering mengkonsultasikan cara mendidik anak-anak dengan pihak lain, melakukan studi banding, dan tidak bersikap eksklusif dalam urusan mendidik sholat. Sebab bisa jadi, cara kita justru efektif untuk keluarga lain dan begitu juga sebaliknya. 
  5. Kelima, musyawarah. Seringkali perintah sholat dalam keluarga diberlakukan secara dogmatis. Anak dan istri dibiarkan melakukan sholat tanpa mengetahui latar belakang perintah, bagaimana cara mengerjakannya, dan apa akibat serta hasil yang hendak dicapai oleh ibadah penting ini. Oleh sebab itu, kepala rumah tangga tidak cukup memiliki kecerdasan tapi juga harus mencerdaskan keluarganya, khususnya berkaitan dengan perintah sholat. Hal ini dapat dimediasi dengan proses musyawarah, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, membicarakan apa itu sholat, bagaimana sholat, serta untuk kepentingan apa sholat itu dari hati ke hati.

Sedangkan makna amara, jika dikaitkan dengan bagan ontologi [tujuan/hikmah] dapat dijelaskan sebagai berikut.:

  1. Pertama, menjadi sesuatu. Maksud dari menjadi sesuatu jika dikaitkan dengan sholat adalah bahwa sholat menjadi salah satu tabir pemisah antara kafir dan mukmin, setelah syahadatain dan sebelum menunaikan zakat. Rasulullah Saw., bersabda, “Aku diperintahkan untuk berperang dengan manusia hingga mereka mengucap syahadatain, menegakkan sholat, dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukannya, terjagalah darah, harta kecuali dengan hak Islam dan perhitungan amal mereka menjadi tanggung jawab Allah.” [HR. Bukhari]. 
  2. Kedua, kecenderungan. Pendidikan sholat yang baik akan melahirkan kecenderungan dan tabi’at yang baik. Seseorang yang sering berdialog dengan Allah dalam kesehariannya tentu saja akan berbeda dengan orang yang tidak berdialog. Sholat akan meminimalisir ammârah [kecenderungan buruk] yang dimiliki syahwat manusia. Oleh sebab itu, Allah menjamin jika baik, sholatnya akan menjaga manusia dari berbuat fakhsyâ [kejahatan tersembunyi] dan munkar [kejahatan terang-terangan]. 
  3. Ketiga, kepemimpinan. Makna leksikal ini dapat ditempatkan pula pada ranah epistemologi, bahwa sholat—meskipun merupakan kewajiban fardhiyyah—meski dipraktikkan secara berjamaah. Motivasi sholat berjamaah sungguh fantastis. Jika sholat dilakukan secara perseorangan mendapat datu derajat kebaikan, maka dengan berjamaah seseorang dapat mendapat 27 derajat kebaikan. Sedangkan jika ditinjau dari ranah hikmah sholat, secara tidak langsung keluarga kita akan melihat praktik latihan dasar kepemimpinan. Ada seorang imam yang memimpin dengan syarat-syarat tertentu dan adapula makmum yang dipimpin dengan syarat tertentu pula. Sebagai contoh, imam harus seorang yang faqih, hafal quran, bagus bacaannya, serta seseorang yang sudah baligh. Makmum diharuskan taat pada pemimpin selama benar, jika pemimpin salah makmum memiliki kewajiban untuk meluruskannya secara lantang-etis-yuridis bagi laki-laki [dengan ucapan subhanallah] dan secara etis-yuridis saja bagi perempuan [dengan tepukan tangan]. Serta seabreg contoh-contoh lain yang mengandung hikmah latihan dasar kepemimpinan. 
  4. Keempat,  sempurna. Sholat merupakan ciri dari kesempurnaan ibadah. Rasulullah Saw., bersabda, “Sesungguhnya hal pertama yang akan dihisab dari seorang hamba adalah sholat, jika sholatnya sempurna sungguh dia beruntung dan selamat, jika sholatnya tidak disempurnakan sungguh dia merugi dan celaka.” [HR. Tirmidzi]. 
  5. Kelima, berkah. Sholat merupakan bukti syukur, seperti diungkanpan dalam Surat Ibrahim di atas, setelah menegakkan sholat, menjalin hubungan baik dengan masyarakat, mendapatkan rizki, kemudian diakhiri dengan, “Agar mereka bersyukur.” [QS. Ibrahim, 37]. Tentu saja syukur mendatangkan barakah, masih dalam Surat Ibrahim, Allah berfirman, “Jika kalian bersyukur, Aku pasti menambahkan [berkah]. Tapi jika kalian kufur [nikmat], sungguh ‘adzab-Ku sangat keras.” [QS. Ibrahim, 7]. Keberkahan sholat pun dapat ditinjau dari aspek ketaqwaan. Semakin baik sholatnya, semakin baik pula ketaqwaannya. Sedangkan ketaqwaan adalah pangkal keberkahan. Allah berfirman, “Dan akibat yang baik itu ada pada ketaqwaan.” [QS. Thâ-hâ, 132]. Dalam ayat lain Allah berfriman, “Siapa yang bertaqwa, Allah akan memberinya jalan keluar. Serta memberinya rizki dari arah yang tak terduga.” [QS. Al-Thalaq, 2-3]. 
  6. Keenam, sejahtera. Sejahtera adalah aspek perasaan, seseorang yang memiliki kekayaan berbeda bisa jadi sama-sama memiliki kesejahteraan yang sama. Sebagai ilustrasi, kekayaan Indonesia luar biasa melimpah, tapi rakyat yang tidak sejahtera luar biasa mewabah. Oleh sebab itu, sholat tidak ada kaitannya sama sekali dengan kaya atau tidaknya seseorang. Tapi sholat akan menjamin, bahwa berapapun harta kekayaan yang ia miliki, ia akan merasa bahagia dengan kesejahteraannya. Sejahtera juga berkaitan dengan keadilan. Jika di hadapan Allah saja ia terhormat, ia pun akan menghormat dengan penuh keadilan masyarakat di sekitarnya. Jik sholatnya buruk, maka dapat dipastikan ia pun akan berlaku buruk di hadapan manusia. Jika kepada Allah berani membangkang, maka tidak aneh lagi jika ia harus mendzalimi makhluk sesamanya.

Inilah diantara makna-makna yang terungkap dalam kajian leksikal pelaksanaan perintah sholat. Dengan menghayati ketiga ranah besar ilmu di atas, maka nampaklah sholat bukan sekedar kewajiban dengan segudang ancaman, tapi merupakan cara untuk memanusiakan manusia, menjadikan mereka sebagai makhluk yang memiliki ‘sesuatu’ yang tidak dimiliki orang lain yang tidak sholat. Dengan efek bathiniyyah sholat, maka menjamin lahirnya masyarakat yang adil, taqwa, terjauh dari perbuatan maksiat dan makar.

Oleh sebab posisi sholat yang super penting ini, maka mengajarkan sholat bukan perkara enteng, diperlukan tekad kuat untuk menggapai tujuan tinggi nan mulia itu. Tekad kuat ini harus senantiasa terjaga, apapun tantangannya. Diantara manusia bertekad kuat ini, maka orang-orang yang teguh pendirian, istiqomah, mencontohkan sholat, tidak pernah berhenti menambah ilmu sholat dan cara mengajarkan sholat, serta yang senang mencerahkan makna sholat lah orang yang termasuk kategori washtabara, yang bermakna bukan hanya sabar tapi super sabar. Wallahu’alam