Tag

, , , , , ,

Yudi Wahyudin

Jika anda hendak membangun rumah, fondasi dan tiang termasuk unsur paling penting. Sehebat apapun tiang terpasang, setinggi apapun tingkat yang dirancang, pasti tidak akan mampu menopangnya jika fondasi yang dibuat tidak kokoh. Begitu pula tiang-tiang. Keindahan atap, ketinggian tingkat ditopang oleh kekuatan tiang-tiang.

Jika agama diibaratkan rumah, maka fondasinya adalah akidah sedangkan tiangnya adalah rukun Islam lainnya. Rasulullah Saw., bersabda,

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu: Syahadatain, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji, dan shaum ramadhan [HR. Bukhari]

Seluruh bangunan dan tiang agama bermuara pada akidah dan dari al-ashlu [fondasi] inilah muncul beragam al-far’u [tiang]. Dalam rukun Islam, setelah deklarasi akidah, maka sholat menempati posisi penting. Perhatian para ulama mengenai pentingnya sholat sangat luar biasa. Mayoritas kitab fikih dan hadis, biasanya menempatkan pembahasan sholat dan syaratnya di awal-awal kitab mereka setelah akidah dan ilmu.

Muwatthanya Imam Malik, misalnya. Pembahasan pertamanya adalah Wuqûtu Al-Sholat [waktu sholat].  Kitab Jâm’I Al-Shahîh Imam Al-Bukhari, menempatkan pembahasan sholat dalam Kitab ke delapan dari 77 judul kitabnya. Shahîh Muslim menempatkan sholat dalam Kitab ke empat dari ke  55 kitabnya. Sunan Abû Dawûd dan Tirmidzî menempatkan sholat dalam kitab ke dua, dalam posisi ke lima dalam Sunan Al-Nasâi, posisi ketiga dalam Sunan Ibnu Mâjah, dan lain sebagainya.

Begitu pun halnya dalam pembahasan-pembahasan Kitab Fikih dan dalilnya. Seperti ‘Umdatul Ahkâm dan Bulûghul Marâm Min Adilah Al-Ahkâm. Apalagi karya-karya madzahib al-arba’ah, seperti dalam Al-Ikhtiyâr Lita’lîl Al-Mukhtâr [Madzhab Hanafiah], Bidâyah Al-Mujtahid Wa Nihâyah Al-Muqtashid [Madzhab Malikiah], Tuhfah Al-Muhtâj fi Syarh Al-Minhâj [Madzhab Syafi’iyyah], dan Al-Inshâf [Madzhab Hanbali]. Keseluruhannya menempatkan sholat dalam posisi teramat penting.

Lalu bagaimana menjelaskan kaitan sholat dengan pembentukan manusia asli, bukan manusia hybird, bukan makhluk jadi-jadian, bukan makhluk setengah syaitan, atau syaitan itu sendiri. Saya berani mengatakan—tentu saja dengan beragam dalil—bahwa menegakkan sholat sama dengan menjaga keajegan semesta alam. Atau bisa dikatakan bahwa melecehkan sholat sama dengan mempercepat kehancuran semesta. Dalam tulisan ini, saya tidak akan memberikan penjelasan saintik mengenai kaitan pemilihan waktu sholat sejak terbit hingga terbenamnya matahari dan hikmah penjagaan alam semesta, sebab saya bukan ahli dalam menjelaskannya. Dalam kesempatan ini, saya hendak hendak menjelaskan bagaimana mental yang sehat, manusia yang manusiawi—yang hendak dibangun oleh sholat—dapat menjadi khilafah yang amanah mengurusi alam semesta. Sebab bukankah itu tanggung jawab pertama diciptakannya Adam dan keturunannya?

Fungsi dan Hikmah Sholat

Selain fungsi sholat sebagai penghancur keburukan individual seperti disebut dalam Surat Hud ayat 114, Allah berfirman setelah perintah menegakkan sholat, “Sesungguhnya kebaikan akan menghancurkan keburukan,” fungsi sholat pun dengan sangat jelas dan terang disebut sebagai identitas abadi keislaman seperti tercantum dalam surat Al-Hajj ayat 78. Allah berfirman, “Dialah Allah yang menamai kalian sebagai muslim…oleh sebab itu tegakkanlah sholat dan tunaikanlah zakat seraya berpegang teguh pada kepada Allah.”

Selain fungsi, sholat memiliki hikmah mendalam tentang pembentukan masyarakat sehat yang terbebas dari penyakit mental dan sosial menurut Al-Quran. Allah berfirman dalam Surat Al-‘Ankabut ayat 45, “Tegakkanlah sholat. Sesungguhnya sholat dapat mencegah fakhsyâ [penyakit mental] dan munkar [penyakit sosial].” Sholat dapat melahirkan masyarakat sehat karena dengan sholat manusia dapat terjaga fitrah kebaikannya. Allah berfirman dalam surat Al-Rûm ayat 30-31, “Hadapkanlah wajahmu kepada agama secara hanîf (berbeda dari hal buruk). Itulah fitrah Allah yang telah Dia condongkan manusia kepadanya…kembalilah kepada Allah, bertaqwa kepadanya, serta tegakkanlah sholat dan janganlah kalian termasuk orang yang menyekutukan Allah.”

Dengan fungsi dan hikmah di atas, kemudian Al-Quran memberikan standar perspektif dan worldview yang harus dimiliki oleh setiap orang yang menegakkan sholat agar fungsi dan hikmah tersebut dapat benar-benar dirasakan secara actual dan nyata dalam kehidupan. Dari yang penulis kumpulkan minimal ada sekitar 10 perspektif yang harus dimiliki para penegak sholat. Perspektif ini kemudian karena dilatih setiap hari—minimal lima waktu—berkembang kemudian menjadi karakter dan budaya.

Perspektif Orang-orang Sholat

Pertama, yu’minun. Para penegak sholat adalah mereka yang memiliki perspektif Yu’minûn Bi Al-Ghaib, yaitu orang yang meyakini ada hal-hal ghaib, memiliki keyakinan tentang wajib adanya dzat metafisik, hal gaib yang tidak terindra oleh eksperimen manusia. Hal ini dijelaskan di banyak tempat dalam Al-Quran, seperti Surat Al-Baqarah ayat 1 sampai 5, Surat Al-Naml ayat 3, dan Surat Luqman ayat 4.

Alangkah lucunya, andai orang yang suka sholat kemudian tidak mempercayai adanya Allah yang Maha Ghaib. Jika demikian kenapa ia sholat, untuk siapa ia menghadap, apa yang ia harapkan dari sholatnya? Bukankah alasan sholat karena adanya kesadaran bukan keterpaksaan? Bukankah sholat adalah menghadap Allah Dzat yang tak dapat terindra oleh mata? Bukankah harapan sholat adalah lahirnya pahala, yang tentu saja pahala itu bentuknya tidak konkrit seperti mendapat untung dalam berdagang atau penghargaan dari sesama manusia?

Kedua, al-shâlihun. Para penegak sholat memiliki perspektif membangun, berbuat keislahan, bergerak dengan tata dan cara positif. Allah SWT berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 170, “Dan orang-orang yang berpegang teguh terhadap Al-Quran seraya menegakkan sholat. Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kemaslahatan.”

Membangun dalam perspektif penegak sholat tiada lain adalah dengan menebar ruh Al-Quran. Bukan dengan perspektif development goal mazhab positivism yang berangkat dari mitologi, filosofi, hingga terbangun masyarakat saintis tapi meninggalkan manusia dengan kering tanpa ruhiyyah. Perspektif ishlâh (membangun) dalam sholat sejatinya bermula dari masyarakat al-maghdhûb (sesat hidayah amal) dan al-dhallûn (sesat hidayah ilmu) menjadi masyarakat an’anmta ‘alaihim (berilmu dan beramal) sesuai dengan doa dan harapan yang selalu mereka panjatkan setiap kali sholat ketika membaca surat Al-Fâtihah.

Ketiga, al-syâkirun. Perspektif penegak sholat adalah selalu menempatkan, memberdayakan, memanfaatkan anugerah yang diberikan Allah sesuai dengan penempatan dan alasan anugerah itu diberikan, atau singkatnya adalah bersyukur. Allah SWT berfirman dalam surat Ibrahim ayat 37, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Nabi Ibrahim Saw., faham betul bahwa pendidikan sholat yang diterapkan kepada keluarganya adalah untuk membentuk kepribadian positif, yaitu penanaman sifat syukur. Memang, secara langsung sholat tidak mengakibatkan adanya kelebihan harta dan kekayaan. Tapi dengan sholat, manusia menjadi faham betul bahwa sekecil apapun nikmat yang Allah berikan jika dioptimalisasi dengan metode syukur akan menghasilkan sebuah tambahan yang tak terkira. Sebaliknya, sebesar apapun anugerah Allah diberikan jika disikapi dengan kufur nikmat maka lantas nikmat tersebut bukan saja akan menuju kemusnahan, bahkan akan mendatangkan ‘adzab yang luar biasa hebatnya. Itulah makna yang terkandung dalam Surat Ibrahim ayat 7 yang berbunyi, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Keempat, al-shâbirun. Perspektif para penegak sholat adalah selalu berfikir bahwa kesulitan yang ia hadapi merupakan alat dari Allah untuk meningkatkan ketabahan, kekuatan, daya tahan, dan konsistensi dalam sikap syukur. Singkatnya itulah yang disebut sabar. Allah SWT mengisahkan nasihat Luqman Al-Hakim dalam surat Luqman ayat 17, “Wahai anakku dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”

Dalam ayat ini, perintah sholat digandengkan dengan amar ma’ruf, nahyi munkar, serta sikap sabar. Sholat adalah pengisi ruhiyah, amar ma’ruf dan nahyi munkar adalah berjihad sebagai bentuk syukur, sedangkan sabar adalah kunci suksesnya. Bukankah menempatkan sesuatu pada tempatnya (syukur) selalu akan bersinggungan dengan orang-orang dzalim yang senantiasa cenderung untuk menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya menurut hawa nafsu mereka? Jika kemudian para penegak sholat tidak terlatih untuk berfikir sabar, ia akan gagal dalam menunaikan misi syukurnya. Bukankah mayoritas manusia memperturutkan hawa nafsunya? Bukankah meski tanpa dukungan banyak orang, tanpa dukungan keuangan, tanpa dukungan kemewahan, ia tetap harus menjalankan misi syukurnya? Lalu apa yang akan membuat mereka bertahan dalam gelombang ujian maha dahsyat ini jika bukan karena sabar?

Kelima, Khalâfun. Perspektif para penegak sholat selalu memiliki semangat—meski pada kenyataannya akan banyak orang menolak—untuk melakukan kaderisasi agar misi perjuangannya tidak mengalami al-abtâr atau kemandulan. Allah SWT mengisyaratkan dalam surat Maryam ayat 59, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”

Mereka yang memperturutkan hawa nafsu (dzâlim) alias tidak bersyukur tidak akan tinggal diam untuk mengembangbiakkan prajurit dan para pendukungnya. Jika para penegak sholat kehilangan perspektif al-ishlâh, yaitu membangun manusia-manusia yang dikategori mendapat nikmat seperti termaktub dalam surat Al-Fâtihah yang ia baca setiap kali sholat, maka dapat dipastikan kadernya akan mandul dan berganti menjadi kader-kader penurut hawa nafsu (khalfun) yang tidak segan-segan untuk menyiakan sholat dan mendedahkannya.

Keenam, al-râsikhun. oleh sebab itu perjuangan para penegak sholat tidak berhenti dalam semangat! Tapi harus dibekali ilmu yang mendalam. Inilah kelengkapan yang mesti dimiliki para pejuang sholat seperti disebut Al-Quran dalam surat An-Nisa ayat 162, “Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.”

Para penegak sholat tidak akan mundur dari berkorban sebab telah terbit keimanan kepada Allah dan hari akhir, bahwa pengorbanan yang ia berikan akan berbuah pahala yang kelak ia tuai di Hari Akhir. Namun bagaimana mereka harus berkorban? Apa yang harus mereka berikan? Kepada siapa pengorbanan itu harus mereka persembahkan? Seberapa besar pengorbanan itu harus mereka berikan? Nah Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu harus dijawab melalui kedalaman ilmu, atau dalam bahasa ayat di atas yaitu Al-Râsikhûn Fil ‘iLmi.

Ketujuh, al-‘aqilûn. Tentu saja orang-orang berilmu bukanlah orang yang jumud. Ia memiliki pemikiran dan cakrawala luas, sebab tak pernah ia sia-siakan—dalam rangka bersyukur kepada Allah—anugerah yang telah Allah berikan. Terutama anugera khas yang hanya diberikan kepada manusia, yaitu berfikir atau berakal. Allah SWT berfirman untuk menggambarkan generasi yang menyia-nyiakan sholat, “Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sholat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.”

Risalah agung yang terpatri pada setiap jiwa manusia dianggap oleh generasi yang menyia-nyiakaan sholat sebagai suatu hal yang enteng. Saking entengnya, dengan tanpa ragu-ragu mereka mempermainkan sholat dan menjadikannya ‘buah ejekan’. Kenapa sampai demikian? Karena akalnya tertutup pragmatism hawa nafsu. Mereka melihat—dengan pemikiran dan argumentasi dangkal—bahwa sholat tidak akan pernah menghasilkan keuntungan apapun. Hanya membuang-buang waktu. Tapi para penegak sholat justru berfikir sebaliknya, semakin dekat dengan Allah melalui sholat, maka semakin dekat pula peluang kesuksesan, keberhasilan, dan kemenangan. Sebab bukankah hanya Allah yang dapat menganugerahkannya?

Kedelapan, al-dzâkirûn. Maka pantas jika kemudian setelah mereka dengan cerdas menggunakan pisau akalnya, maka mereka pun cerdas menggunakan pisau batinnya dengan dzikir. Dengan berdzikir, mereka melihat apa yang tidak dilihat oleh generasi pragmatis, dengan berdzikir mereka merasakan sensasi keimanan yang tidak pernah dirasa oleh generasi materialistis. Dengan berdzikir mereka menjadi generasi yang anti prutasi dan menjadi generasi yang memiliki optimism yang luar biasa. Allah SWT berfirman dalam Surat Thâha ayat 14, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk berdzikir pada-Ku.”

Kesembilan, al-manshûrûn. Dengan syukur dan bersabar, dengan berfikir dan berdzikir, maka—mesti kesuksesan belum dirasakan—tapi sejatinya merekalah orang-orang yang menang (manshûrûn). Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 40-41, “…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu kepada) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Kesepuluh, al-marhumûn. Menang dan sukses bukan urusan para penegak sholat. Sebab akhirnya, natîjah atau hasil dari yang diupayakan adalah buah dari rangkaian upaya yang mereka kerjakan. Namun diantara kesuksesan yang mereka harapkan, ada satu kesuksesan yang tiada tara dibanding kesuksesan-kesuksesan lainnya, yaitu mendapat rahmat dari Allah SWT (al-marhûmûn). Allah SWT berfirman dalam surat Al-Nur ayat 56, “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu mendapat rahmat.”

Inilah kesuksesan puncak yang layak digantikan surga. sebab sehebat apapun amal manusia jika digantikan dengan kedahsyatan nikmat surga tidak akan pernah sebanding. Satu-satunya alasan kenapa surga menjadi layak dibeli oleh amal kita—sekecil apapun—adalah karena Allah menganugerahkan rahmat.

Itulah diantara perspektif masyarakat yang hendak dibangun oleh ibadah sholat. Dengan perspektif orang-orang sholat, bukan saja kemaslahatan rumah tangga, masyarakat, dan Negara yang terjaga bahkan dalam ruang lingkup lebih besar mampu menjaga keajegan dunia dan alam semesta. Wallâhu’alam