Tag

, ,

Yudi Wahyudin

Banyak pekerjaan hari ini. Mau yang berbayar atau haratisan [gratis], pengabdian atau ‘penghambaan’, yang mendesak atau masih jauh dari deadline. Tapi ternyata menulis tidak bisa ditunda, setelah absen beberapa hari dan jari-jari ini seolah enggan berkomunikasi dengan keyboard laptop si buhun.

Namun shubuh kemarin, jari-jari ini seolah ingin segera ‘menari’ kembali, ada persoalan yang kelihatan enteng tapi penting harus segera ditelisik, dicari jawabannya.

Ketika saya dengan para jamaah sampai kepada Surat Al-Barâ-ah [atau At-Taubah] ayat genap yaitu 100 yang berbunyi,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Bapak saya bertanya, “Jang, naha dina ayat ieu mah Allah cukup nyebut tajrî tahtahâ al-anhâr, teu saperti biasana ngagunakeun tajrî min tahtihâ al-anhâr? (Nak, kenapa di ayat ini, Allah cukup mengungkapkan tajrî tahtahâ al-anhâr, tidak seperti biasanya menggunakan tajrî min tahtihâ al-anhâr?).

Saya yang saat itu selesai membacakan tafsir ayat 100 hingga 105, berhenti. “Apa ya?, apa maksud Allah?.” Penulis sangat terhentak. Imam Al-Shabuni tidak membahasnya. Dan selama ini saya tidak pernah mendapatkan persoalan seperti ini. Oleh sebab itu, saya memutuskan untuk tidak menjawabnya. “Insya Allah, engke urang pangmilariankeun jawabanana. Abdi teu apal. Bilih lepat,” (Insya Allah, nanti saya carikan jawabannya. Saya tidak tahu, takut salah), “ jawab saya.

Pertanyaan Bapak Entang yang kelihatan enteng ini ternyata tidak mudah. Sebab dari 35 tempat ayat yang menjelaskan air yang mengalir di bawah surga, seluruhnya memakai min, kecuali ayat ini.

“Apa rahasianya ya Allah?,” tanyaku

Tentu saja saya mulai membuka “perpustakaan digital.” (sanes gaya, eta mah kitabna teu acan ka peser, heu..heu..) dari Maktabah Al-Syamilah. Setiap tafsir saya buka dan mayoritas menjawab, “Demikian mayoritas qira-ah membaca tanpa min, kecuali Ibnu Katsir dalam Mushaf Makki yang membacanya dengan menggunakan min tahtiha al-anhâr.” Artinya, mufassir yang menggunakan argumentasi ini menganggap bahwa dengan atau tanpa min, tidak ada pengaruh besar dalam arti ayat ini. Buktinya, Qiro’ah shahih dari Ibnu Katsir membaca ayat ini dengan min.

Ternyata, diantara sekian kitab tafsir, hanya dua tafsir yang menjelaskannya, yaitu Tahrîr wa Al-Tanwîr dan Tafsir Al-Biqâ’i. Dalam Tahrîr wa Al-Tanwîr dijelaskan bahwasanya, “Setiap huruf jar [termasuk huruf min] jika menghadapai dharaf [keterangan] waktu [zamân] atau tempat [makân] adalah berarti penguat [ta’kîd].”

Meski dijelaskan fungsinya, saya masih tetap bingung. Jika dalam ayat tersebut tidak memakai min, berarti lafadz tahtaha [di bawahnya] yang termasuk dharaf makân [keterangan tempat] tidak menunjukkan benar-benar di bawahnya atau dengan kata lain, air itu mengalir dari bawahnya, bukan benar-benar mengalir dari bawahnya. Lalu, apa maknanya?

Sedangkan tafsir Al-Biqâ’i menjelaskan, bahwa, “Dilepasnya huruf min dalam qirâ-ah al-jama’ah yaitu bermakna bahwa air yang mengalir sangat banyak, hingga tidak perlu lagi disebut min tahtiha atau menegaskan dari arah bawahnya. Dibedakannya surga yang akan ditempati al-sâbiqûna al-awwalûn karena kekhususan iman yang mereka miliki. Hingga air yang mengalir lebih besar dari surga yang akan dihuni mukmin lainnya.

Hingga di situ, saya mulai mengerti. Pertama, ternyata surganya al-sâbiqûn al-awwalûn memiliki aliran sungai yang lebih melimpah daripada sungai-sungai surga lainnya. Hingga penegasan kata min tahtiha (benar-benar mengalir dari bawahnya) tidak perlu lagi ditegaskan, karena sungai-sungai di surga mereka melimpah ruah. Kedua, jika dikaitkan dengan perintah agama dalam fungsi ta’kîd [penguat], maka ta’kîd pada umumnya digunakan untuk orang yang memiliki keimanan rata-rata, keimanan yang lemah, orang yang tidak percaya, atau bahkan para pembangkang. Nah dalam ayat ini, surga yang disebutkan adalah untuk mereka yang tergolong Al-Sâbiqûna Al-Awwalûn, yaitu ada yang menyebut generasi muhajirin dan anshor pertama, prajurit Badar, orang yang berbai’at aqabah I, II, atau bahkan adapula yang menyebut generasi pertama terbaik, yaitu seluruh sahabat. Dengan demikian, tentu saja mereka bukan termasuk orang dengan keimanan rata-rata, orang dengan keimananan lemah, orang yang tidak percaya, apalagi termasuk golongan pembangkang. Oleh sebab itu, tidak perlu gambaran keindahan surga dengan keterangan penguat [ta’kîd].

Oleh sebab itu pula, penjelasan Tafsir Al-Biqâ’i mendapatkan relevansinya. Surga untuk mereka yang tergolong Al-Sâbiqûna Al-Awwalûn berbeda dengan surga-surga generasi mukmin lainnya. Surga jenis ini bersifat eksklusif, tidak dimiliki surga-surga level lain, atau jika dugaan penulis benar, rahasia tanpa min diantara ke-34 tempat lainnya yang menggunakan min dalam penjelasan “yang mengalir sungai di bawahnya,” mengisyaratkan bahwa surga bagi generasi terbaik ini termasuk surga yang unik, eksklusif, mewah, dan hanya satu buah jumlahnya. Wallâhu’alam